Posted by: lukmanc | March 19, 2008

Kopi Luak Bali

ko.jpgKalau orang ditanya apakah kopi yang sejauh ini paling mahal di seantero jagad, kebanyakan pasti menyebutkan kopi luwak sebagai salah satunya. Tapi apakah dengan statusnya sebagai kopi termahal berarti kopi tersebut sebagai kopi paling enak sejagad? Belom tentu….

Awal minggu ini saya dapat kesempatan mencoba cangkir kedua kopi luwak yang pernah saya minum sejauh ini. Ketika tawaran datang, langsung terbayang-bayang karakter kopi luwak pertama yang dicoba beberapa tahun yang lalu, karakternya dominan earthy, dengan tingkat kematangan pemetikan kopi yang just perfect, acidity yang balance. Kesimpulan kami waktu itu adalah kopi ini mungkin bukan yang terbaik yang pernah kami minum, tapi memang dipetik tepat pada waktunya, karena telat 1 hari saja, karakter fermented mungkin akan mulai muncul.

1 buah kemasan vacum-pack, berisi 10 gram kopi luwak yang sudah diroast dan digiling, dibuka sambil menunggu air selesai dijerang. Bila 1 Kg kopi ini dihargai Rp. 5 juta sekian, artinya kopi yang saya hadapi sekarang, harga bahan di tingkat suppliernya sudah limapuluh ribu something. Hmmm… jauh bener ya sama kopi-kopi yang biasa saya temui, yang harga bahan percangkirnya semahal-mahalnya hanya limaribuan rupiah saja (Kecuali mungkin Kona atau Blue Mountain yang pernah saya minum, tapi berhubung statusnya oleh-oleh, jadinya gak tahu harganya berapa)

Beberapa menit setelah air sudah mendidih, isi kemasan kopi luwak langsung dibagi ke 2 cangkir kecil, dan air dituangkan. Sambil menunggu kopi di cangkir “matang”, kami mengendus-endus wanginya, mencoba menebak seperti apa kira-kira karakternya nanti. Dengan harapan tinggi, dan kekuatan penuh menahan diri, untuk tidak mengaduk-aduk kopi di cangkir sebelum waktunya, kami menunggu berakhirnya masa ekstraksi 4 menit untuk berlalu. Ketika waktu ekstraksi selesai, dengan penuh semangat kami mengaduk ampas yang mengambang diatasnya, sambil menaruh hidung diatas cangkir, mengendus-endus seperti seseorang yang sedang mencari sumber kentut diantara sekerumunan orang. Hendusan pertama memberi peringatan keras, yang membawa imajinasi yang tadinya sudah mengawang-awang, membayangkan karakter seperti apa yang bakal didapat, untuk turun ke bumi dalam waktu secepat-cepatnya. Kopi luwak ini bijinya robusta! Sebagai penikmat arabika, ini merupakan suatu cobaan, karena robusta bagi saya karakternya cenderung membosankan (kecuali 1 atau 2 sample robusta yang ditanam di ketinggian diatas 1000 m), dimana yang bisa dinilai hanyalah body. Acidity, Flavour, dan Aroma bisa dibilang sangat minim dimiliki kopi robusta.

luak.jpgSeruputan pertama memastikan bahwa sample kopi yang dihadapi ini adalah robusta. Seruputan kedua menemukan karakter earthy yang sangat-sangat dominan, cenderung seperti tanah yang sangat-sangat basah. Karakter menarik model-model fruity, acidity, aroma dan flavour yang lain cenderung nihil, tapi ya gimana lagi, karena sample yang diminum itu robusta. Satu yang membuat kopi ini mungkin bisa dianggap spesial, adalah wangi pesing yang muncul ketika temperatur mulai turun. Bayangkan, orang membayar ratusan ribu rupiah untuk secangkir kopi beraroma pesing!

Cangkir kopi didepan saya sruput sekali-sekali demi menghargai sang ibu yang telah memberi kesempatan bagi saya untuk ikut mencoba kopi luwak yang dia sedang supply ke sebuah hotel besar di bandung. Alhamdulillah saya gak usah bayar untuk cangkir yang saya hadapi ini. Bagi saya, kopi petikan dan pilihan manusia lebih saya hargai, karena paling gak, melalui proses seleksi, grading, dan pasca panen yang terjaga, secangkir kopi nikmat lebih bisa diharapkan. Besides.. Luwak mana peduli yang dia makan itu arabika atau robusta🙂

Prev: kopi Tjia Lie Hong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: