Posted by: lukmanc | June 5, 2008

DASMEN

Sejarah Management

Kata Manajemen berasal dari bahasa Prancis kuno ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur. Manajemen belum memiliki definisi yang mapan dan diterima secara universal. Mary Parker Follet, misalnya, mendefinisikan manajemen sebagai seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini berarti bahwa seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi. Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.

Banyak kesulitan yang terjadi dalam melacak sejarah manajemen. Namun diketahui bahwa ilmu manajemen telah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Hal ini dibuktikan dengan adanya piramida di Mesir. Piramida tersebut dibangun oleh lebih dari 100.000 orang selama 20 tahun. Piramida Giza tak akan berhasil dibangun jika tidak ada seseorang tanpa mempedulikan apa sebutan untuk manajer ketika itu yang merencanakan apa yang harus dilakukan, mengorganisir manusia serta bahan bakunya, memimpin dan mengarahkan para pekerja, dan menegakkan pengendalian tertentu guna menjamin bahwa segala sesuatunya dikerjakan sesuai rencana.

Piramida di Mesir

Pembangunan piramida ini tak mungkin terlaksana tanpa adanya seseorang yang merencanakan, mengorganisasikan dan menggerakan para pekerja, dan mengontrol pembangunannya.

Praktik-praktik manajemen lainnya dapat disaksikan selama tahun 1400-an di kota Venesia, Italia, yang ketika itu menjadi pusat perekonomian dan perdagangan di sana. Penduduk Venesia mengembangkan bentuk awal perusahaan bisnis dan melakukan banyak kegiatan yang lazim terjadi di organisasi modern saat ini. Sebagai contoh, di gudang senjata Venesia, kapal perang diluncurkan sepanjang kanal dan pada tiap-tiap perhentian, bahan baku dan tali layar ditambahkan ke kapal tersebut. Hal ini mirip dengan model lini perakitan (assembly line) yang dikembangkan oleh Hanry Ford untuk merakit mobil-mobilnya. Selain lini perakitan tersebut, orang Venesia memiliki sistem penyimpanan dan pergudangan untuk memantau isinya, manajemen sumber daya manusia untuk mengelola angkatan kerja, dan sistem akuntansi untuk melacak pendapatan dan biaya

Sebelum abad ke-20, terjadi dua peristiwa penting dalam ilmu manajemen. Peristiwa pertama terjadi pada tahun 1776, ketika Adam Smith menerbitkan sebuah doktrin ekonomi klasik, The Wealth of Nation. Dalam bukunya itu, ia mengemukakan keunggulan ekonomis yang akan diperoleh organisasi dari pembagian kerja (division of labor), yaitu perincian pekerjaan ke dalam tugas-tugas yang spesifik dan berulang. Dengan menggunakan industri pabrik peniti sebagai contoh, Smith mengatakan bahwa dengan sepuluh orang masing-masing melakukan pekerjaan khusus perusahaan peniti dapat menghasilkan kurang lebih 48.000 peniti dalam sehari. Akan tetapi, jika setiap orang bekerja sendiri menyelesaikan tiap-tiap bagian pekerjaan, sudah sangat hebat bila mereka mampu menghasilkan sepuluh peniti sehari. Smith menyimpulkan bahwa pembagian kerja dapat meningkatkan produktivitas dengan (1) meningkatnya keterampilan dan kecekatan tiap-tiap pekerja, (2) menghemat waktu yang terbuang dalam pergantian tugas, dan (3) menciptakan mesin dan penemuan lain yang dapat menghemat tenaga kerja.

Peristiwa penting kedua yang mempengaruhi perkembangan ilmu manajemen adalah Revolusi Industri di Inggris. Revolusi Industri menandai dimulainya penggunaan mesin, menggantikan tenaga manusia, yang berakibat pada pindahnya kegiatan produksi dari rumah-rumah menuju tempat khusus yang disebut pabrik. Perpindahan ini mengakibatkan manajer-manajer ketika itu membutuhkan teori yang dapat membantu mereka meramalkan permintaan, memastikan cukupnya persediaan bahan baku, memberikan tugas kepada bawahan, mengarahkan kegiatan sehari-hari, dan lain-lain, sehingga ilmu manajamen mulai dikembangkan oleh para ahli.

Di awal abad ke-20, seorang industriawan Perancis bernama Henry Fayol mengajukan gagasan lima fungsi utama manajemen: merancang, mengorganisasi, memerintah, mengoordinasi, dan mengendalikan. Gagasan Fayol itu kemudian mulai digunakan sebagai kerangka kerja buku ajar ilmu manajemen pada pertengahan tahun 1950, dan terus berlangsung hingga sekarang.

Sumbangan penting lainnya datang dari ahli sosilogi Jerman Max Weber. Weber menggambarkan suatu tipe ideal organisasi yang disebut sebagai birokrasi bentuk organisasi yang dicirikan oleh pembagian kerja, hierarki yang didefinisikan dengan jelas, peraturan dan ketetapan yang rinci, dan sejumlah hubungan yang impersonal. Namun, Weber menyadari bahwa bentuk “birokrasi yang ideal” itu tidak ada dalam realita. Dia menggambarkan tipe organisasi tersebut dengan maksud menjadikannya sebagai landasan untuk berteori tentang bagaimana pekerjaan dapat dilakukan dalam kelompok besar. Teorinya tersebut menjadi contoh desain struktural bagi banyak organisasi besar sekarang ini.

Perkembangan selanjutnya terjadi pada tahun 1940-an ketika Patrick Blackett melahirlkan ilmu riset operasi, yang merupakan kombinasi dari teori statistika dengan teori mikroekonomi. Riset operasi, sering dikenal dengan “Sains Manajemen”, mencoba pendekatan sains untuk menyelesaikan masalah dalam manajemen, khususnya di bidang logistik dan operasi. Pada tahun 1946, Peter F. Drucker sering disebut sebagai Bapak Ilmu Manajemen menerbitkan salah satu buku paling awal tentang manajemen terapan: “Konsep Korporasi” (Concept of the Corporation). Buku ini muncul atas ide AlfredSloan (chairman dari General Motors) yang menugaskan penelitian tentang organisasi

Posted by: lukmanc | June 5, 2008

Arti hidup

Arti Hidup, Apa sesungguhnya arti hidup ini? Bangun pagi, kadang sarapan kadang tidak, Pergi ke suatu tempat, berkutat, Pulang, Matahari terbenam, Istirahat, Pejamkan mata, Mimpikan mimpi, Tentang indah sebuah padang berbias mentari.

Apa yang kau cari dalam hidup ini? Uang? Kuasa? Popularitas…atau hanya Cinta? Yang mana? Cinta sejati atau yang semu? Cinta yang ada dihati atau di bibir saja?

Apa yang kau ingin dari hidup ini? Kala airmata bergulir sebab kau mendapat musibah Atau ketika tawa bertingkah sebab kau mendapat anugrah Apa yang hidup bisa berikan Selain janji Yang belum tentu tertepati Mengapa kau ingin hidup?

Bukankah tidur lebih baik jika kita terus didera gulana? Bukankah mati masih lebih baik jika raga tlah tak berdaya? Bukankah sembunyi lebih baik dari sekedar melongok tetangga Lewat jendela?

Hidup kita Hakikatnya adalah sebatang kara Tak ada yang lain hanya kau dan Dia, Semua datang dan pergi, Tak ada yang abadi, Kecuali Dia yang Maha Memandang, dengan kasih tak terbalas.

Hidup kita sejatinya adalah pencarian tanpa henti jauh ke dalam diri sendiri lewat mata orang lain lewat pikir orang lain tapi rahmat-Nya sekalipun tak pernah tertukar karena benar hidup ini adalah pencarian hakiki makna dan fungsi diri sendiri agar hasilnya dapat kita bawa pulang sebagai laporan pada yang Maha Penyayang. lalu bertanya…

Apakah benar ini diriku ya Rabb? Apakah benar caraku mendefinisikan kefanaanku Di hamparan suci bumi-MU Apakah dosaku telah luruh Dengan 5 kali menyelam dalam Ke sungai kesucian? Dengan rangkaian zikir dan sholawat Yang kadang lupa kulafadzkan Apakah benar ini hatiku ya Kekasih?

Seorang saja yang kurindukan Lebih dari rindu matahari pada rembulan Seorang mulia yang membuat jantungku nyaris lepas Karena kebas Oleh rahasia, Oleh rasa ingin jumpa, Oleh gila ingin menyentuh tangannya yang mulia Kekasih-MU, Satu-satunya Kekasih-Mu, Sebab muasal dunia dan seisinya

Tolong aku wahai yang Maha Rindu, Ijinkan bertemu walau sekejap Agar kutahu wajah mulia kekasih-Mu itu, Agar dapat kusentuh tangannya yang mulia, Karena dada ini sudah terlampau bara, Semoga akhirnya sampai jua pada Engkau Muara segala yang fana.. Aduhai bila aku sampai pada diri-Mu? Rindu ini, Rasa cinta ini, Rasa berdebar ini, Tak tertanggungkan…

Maka akhirnya Apakah arti hidup ini? Selain mengukuhkan keabadian-Mu, Selain berma’rifat pada diri-Mu… Selain menghamba, Selain merindu, Selain mengharap, Selain mencinta.. Kekasih

Akan mampu kulewati hari-ini Yang suram mau pun yang cerah Yang gundah maupun yang indah.. Akan kutanggung sendiri Jika Engkau yang mengendalikan.. Jangan biarkan aku melangkah sendirian Tanpa Engkau pedulikan Aku

Ini Hanya tiada… Semua titipan-Mu Padaku Dalam hidup yang singkat ini Wahai kekasih… Sungguh jangan buat aku Melupakan Engkau dan kekasih-Mu, Sungguh..

Jadikanlah mereka Permata yakut dan marjan yang berkilauan Namun tak melenakan, Yang mampu membuat bibir dan hatiku Tak henti bersyukur pada-Mu, Yang membuat sholawat selalu indah melingkar Dalam berkah Wahai pencinta Inilah sebenarnya arti hidup Yang fana Darul Bala’ (wadah masalah) Yang bisa tercerabut kapan saja.

I. PENDAHULUAN.

1.1 Latar Belakang

Perbanyakan tanaman kopi dengan stek dewasa ini telah berkembang dengan pesat, terutama pada kopi robusta. Sebagian besar perusahaan perkebunan beasar negara dan swasta telah menggunakan bahan tanam stek sebagai bahan tanam atau untuk peremajaan tanaman kopinya. Menurut Hartobudoyo dan Soedarsono (dalam Nur, 1989) Pertumbuhan tanaman stek lebih seragam dan memiliki sifat genetik sama dengan induknya. Sistem perakaran tanaman stek juga cukup kokoh menyerupai tanaman semaian (Nur dan Zainudin dalam Nur, 1989).

Kopi robusta sering kali diperbanyak dengan cara vegetatif, atau menggunakan stek. Dalam perbanyakan tanaman secara vegetatif atau menggunakan stek, pembentukan akar merupakan faktor awal yang paling terpenting dalam pertumbuhan tanaman, tetapi dengan cara ini sukar terjadi pembentukan akar. Masalah ini memang dapat diatasi dengan pemberian hormon tumbuh, yang tujuannya untuk merangsang keluarnya akar (Abdurrani, 1990).

Hormon tumbuh dapat berupa hotmon tumbuh alami, maupun hormon tumbuh sintetis. Hormon tumbuh alami dapat diperoleh dari organ tumbuh tanaman yang masih muda, misalnya ujung tanaman dan ujung akar. Tetapi sumber keduanya sulit dicari. Sedangkan hormon tumbuh sintetis adalah hormon tumbuh yang dibuat oleh pabrik, misalnya IAA (Indoleacetic acid) atau dipasaran disebut Rooton F. Rooton F selain sulit tersedia di tempat yang mudah dijangkau oleh para petani di pedesaan, harganya juga relatif sangat tinggi (Abdurrani, 1990).

Zat perangsang tumbuh atau hormon tumbuh adalah senyawa organik yang dalam konsentrasi rendah (< 1 mm) mampu mendorong, menghambat, atau secara kualitatif merubah pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Moore dalam Erviyanti, 2005).

Sebenarnya tanaman memiliki hormon misalnya Rhizokulin untuk merangsang akar, Kaulin untuk merangsang pertumbuhan batang, dan Antokalin untuk merangsang pembungaan. Hormon-hormon ini termasuk dalam golongan auxin yaitu AIA (Asam Indol Asetat), ANA (Asam Naftalena Asetat), dan AIB (Asam Indol Butirat). Hormon yang terdapat dalam tanaman tersebut jumlahnya hanya sedikit oleh karena itu penambahan zat ataupun hormon yang mendukung pertumbuhan akar maupun batang. Dengan demikian diharapkan pertumbuhan tanaman menjadi lebih cepat. Misalnya pada pembuatan stek, tanpa pemberian hormon atau zat perangsang tumbuh akar pada stek akan tumbuh agak lama, dan dengan penambahan hormon pada luka ataupun media maka akar pada atek akan tumbuh lebih cepat (Wuianto dalam Erviyanti, 2005).

Seiring dengan berkembanganya ilmu pengetahuan, dari hasil penelitian ternyara rooton f juga terdapat dalam urine sapi (air kencing sapi). Fungsinya sama, yakni merangsang pertumbuhan akar pada stek kopi sebagai bahan tanam (Abdurrani, 1990).

1.2 Rumusan Masalah

Kopi robusta mempunyai sistem penyervukan silang sehingga apabila kopi robusta diperbanyak dengan benih tanaman tidak sama seperti induknya yang bersifat unggul. Untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan perbanyalan secara vegetatif, salah satunya adalah dengan menggunakan setek. Sedangkan pada stek yang terpenting adalah cara menumbuhkan akar sehingga dapat mempercepat pertumbuhan tanaman, karena penyerapan unsur hara dilakukan oleh akar atau tidak hanya dari pucuk daun tanaman. Oleh karena itu diperlukan hormon untuk mempercepat tumbuhnya akar pada stek tanaman kopi .

Adapun hormon yang digunakan untuk mempercepat munculnya akar adalah hormon tumbuh sintetis (rooton f) dan hormon alami (urine sapi). Dengan percobaan ini diharapkan hasil yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan pemilihan hormon atau zat perangsang tumbuh antara yang alami dan mudah didapat dengan yang sintetis atau buatan.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sejauh mana kecepatan tumbuh akar dengan menggunakan zat perangsang tumbuh atau hormon rooton f dan urine sapi. Selain itu juga untuk mengetahui zat pengatur tumbuh mana yang memiliki pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan stek kopi.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan mampu menambah pengetahuan dan informasi tentang perbanyakan tanaman kopi secara vegetatif dengan bantuan hormon atau zat pengatur tumbuh dan sebagai bahan kajian penelitian lebih lanjut.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Botani Tanaman Kopi Robusta

Ada bermacam-macam jenis kopi, namun dalam garis besarnya hanya ada tiga jenis kopi yaitu Arabika, Liberica, dan Robusta. Yang paling dulu diusahakan di Indonesia adalah jenis arabica, kemudian menyusul golongan liberica, dan yang terakhir adalah golongan robusta (AAK, 1982).

Kopi robusta disebut juga kopi canephora (Coffea canephora). Kopi ini memiliki batang yang lebih besar dari jenis kopi lainya. Di perkebunan tinggi tanaman ini tidak lebih dari 4 m karena selalu dipangkas. Apabila tidak dipangkas tinggi pohon bisa mencapai 2-3 kali lipatnya. Daun kopi robusta berbentuk lonjong, lebar, dengan bagian pangkal yang tumpul atau membundar, sedangkan ujungnya meruncing. Bunganya muncul pada cabang-cabang yang mendatar, menggerombol, umumnya terdiri atas 2-4 bunga yang tak bertangkai pada setiap gerommbol. Warna bunga putih dan baunya sangat harum. Buahnya termasuk buah batu dan berwarna merah kebiruan kalau sudah masak (Balai Pustaka, 1980).

Dalam penelitian ini bahan stek diammbil jenis kopi robusta klon BP 42, dengan sifat-sifat agronomi:

a. Perawakan sedang.

b. Percabangan mendatar, ruas pendek.

c. Bentuk daun membulat besar, permukaan bergelombang sedikit, dan berwarna pupus hijau kecoklatan.

d. Buah berbentuk besar, dompolan rapat, warna hijau pucat, masak merah.

e. Biji berukuran medium – besar, saat pembungaan agak akhir (lambat).

f. Produktivitas (kg kopi biji/ha/th): 800 – 1.200 (Balai Penelitian Kopi dan kakau Indonesia, 2008).

Kopi robusta dapat tumbuh baik pada ketinggian 0 – 1000 m diatas permukaan laut, menghendaki curah hujan yang cukup dengan masa kering 3-4 bulan. Temperatur yang dikehendaki untuk jenis kopi ini adalah 21-240C (AAK, 1989).

2.2 Penyetekan Kopi Robusta

Yang dimaksud dengan stek adalah mengusahakan perakaran dari bagian-bagian tanaman (cabang, daun, atau akar) dengan memotong dari induknya untuk ditanam (Sunaryono, 1984).

Kopi robusta ditanam menggunakan bibit stek karena pada umumnya kopi rebusta melakukan penyerbukan silang, sehingga bila ditanam dengan biji dikhawatirkan sifat tanaman tidak sama dengan induknya.

Bahan stek dapat dibeli dari tempat penangkaran bibit, kebun entres, atau kebun produksi. Bila diambil dari kebun produksi maka tanaman harus besifat unggul. Bahan stek berupa ujun wiwilan yang sehat dan tumbuh subur (Najiyati dan Danarti, 2007).

Penyemaian stek dimulai dari pembuatan bedeng penyetekan dengan media semai berupa pasir halus dengan tingi 10 cm, kemudian beri naungan.

Setelah bedengan penyemaian stek disiapkan maka pekerjaan selanjutnya adalah penyemaian stek. Penyemaian stek dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

a. Potong bahan stek hingga tersisa 2-3 ruas dengan gunting pangkas, panjangnya kira-kira 15-20 cm. Ruas yang digunakan sebagai bahan stek adalah ruas kedua dan ruas ketiga, sedangkan ruas pertama yang paling atas dibuang.

b. Potong mendatar ujung stek bagian atas sekitar 2 cm diatas buku kedua. Potong miring ujung bagian bawah sekitar 3-5 cm dibawah buku ketiga atau ke empat. Helaian daun dipotong hingga tersisa ¼ bagian, tujuanya untuk mengurangi penguapan. Beri lilin parafin diujung stek sebelah atas untuk mengurangi penguapan dan mencegah serangan penyakit. Sedangkan pada bagian bawah dapat direndam dengan rooton f atau direndam dengan urine sapi sebagai zat pengatur tumbuh.

c. Tancapkan stek pada bedengan sedalam 7,5 cm dengan kemiringan 10-20 derajat. Jarak tanam stek 15 x 15 cm. Siram dengan air secukupnya.

d. Selain itu keberhasilan dalam pennyetekan harus didukung pula dengan lingkungan yang memadai. Umumnya menggunakan sungkup plastik transparan. Sungkup ini berfungsi sebagai penjaga kelembaban dan suhu sehingga diharapkan pertumbuhan stek dapat tumbuh dengan baik (Erviyanti, 2005).

Setelah stek disemaikan tahap selanjutnya adalah pemeliharaan persemaian. Pemeliharaan persemaian meliputi penyiraman dan pemberantasan gulma yang mengganggu dipersemaian. Penyiraman dilakukan hingga media menjadi lembab.

2.3 Zat Perangsang Tumbuh Rooton F

Rooton F merupakan salah satu contoh hormon tumbuh yang mengandung indole 3 – butyric acid termasuk dalam contoh auxin (Sudarmo dalam Erviyanti, 2005).

Menurut Rismunandar (dalam Erviyanti) rotoon f merupakan hormon tumbuh sintetis yang lajim digunakan untuk merangsang pertumbuhan akar dalam penyetekan. Rooton f mengandung Naftalenasetamida (0,067 %), Metil – 1 Neftalenasetamida (0,013 %), Metil – 1 Neftalen Asetat (0,033 %), Indole 3 – Butirat (0,057 %) dan Fungisida tiram (4%). Fungsi rooton f dalam tanaman adalah untuk merangsang meningkatnya dan terbentuknya dan meningkatkan aktifitas dari hormon tumbuh-tumbuhan, jadi bukan inhibitor yang dapat menyebabkan kekerdilan pada tanaman. Rooton f juga berguna merangsang dan meningkatkan pertumbuhan tanaman mulai dari perkembangan sel, pertumbuhan bibit, akar, tunas, batang, dan bunga sampai menjadi buah. Zat perangsang tumbuh ini juga tersedia dalam bentuk tepung berwarna putih dengan konsentrasi anjuran 5 gr / 10 liter air (Widianto dalam Erviyanti, 2005).

2.4 Urine Sapi

Seiring dengan berkembanganya ilmu pengetahuan, dari hasil penelitian ternyara rooton f juga terdapat dalam urine sapi (air kencing sapi). Fungsinya sama, yakni merangsang pertumbuhan akar pada stek kopi sebagai bahan tanam. (Abdurrani, 1990).

Cara penggunaannya, bahan urine dikumpulkan pada satu tempat, misalnya kaleng, saring urine dengan kain tipis atau kain kasa, encerkan urine dengan menggunakan air bersih sampai konsentrasi 5 % atau 10 %, caranya yaitu 10 ml urine ditambah 200 ml air (5 %) atau 10 ml urine ditambah 100 ml air (10 %).

Pengetrapanya stek yang telah disiapkan dicelupkan kedalam larutan urine sapi selama 5 – 10 detik menjelang ditanam ke bedengan.

Posted by: lukmanc | May 20, 2008

TNTP (Taman Nasional Tanjung Puting)

Kawasan Hutan Tanjung Puting diumumkan sebagai taman nasional pada tanggal 14 Oktober 1982 oleh Menteri Pertanian dengan luas 300.040 ha yang sebelumnya (sejak 1937) merupakan Kawasan Suaka Margasatwa Tanjung Puting. Secara administrasi taman nasional terletak di Kecamatan Kumai di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kecamatan Pambuang Hulu, Sebuluh dan Seruyan Hilir di Kabupaten Kotawaringin Timur, Propinsi Kalimantan Tengah.

Taman Nasional Tanjung Puting merupakan kawasan konservasi yang penting untuk melindungi satwa langka seperti Orangutan, Bekantan, Owa-owa, Kelasi dan lain-lain. Kawasan ini juga merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan hujan tropika dataran rendah, hutan rawa air tawar, hutan mangrove, hutan pantai di Kalimantan.

Kawasan ini mempunyai topografi datar sampai sedikit bergelombang dengan ketinggian 0-100 m dpl. Secara umum tipe iklimnya termasuk tropika basah dengan curah hujan rata-rata 2.400 mm per tahun dan memiliki kelembaban yang tinggi.

Posted by: lukmanc | April 15, 2008

Ni Kota Tercinta Qu

Pangkalan Bun.

Keadaan Geografis

Pada tahun 1949 kota Pangkalan Bun masih dikenal sebagai ibu kota dari daerah Swapraja, Kotawaringin, atau dalam bahasa Belanda disebut Landschap. Daearah ini berdasarkan zelkbestuursregenden 1983 dan dalam IS 1946 – 27, telah diberikan hak demokrasi. Sehingga raja atau sultan telah membuat Dewan Perwakilan yang turut membuat undang-undang atau disebut juga dengan Dewan Penasehat.
Negara Indonesia serikat berdiri sejak penyerahan kedaulatan pada Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949, sesudah diadakan Konferensi Menja Bundar di Ridderzaal ‘Sgravenhage (Netherland) atara kerajaan Netherland, pemerintah Indonesia dan pertemuan untuk permusyawaratan federasi (Bijeenkomst Voor Federal Overleg, yang lazim disebut B.F.O), seperti yang dimaksud dalam induk peresetujuan yang bersangkutan dan terbentuk undang-undang (Kerajaan Belanda) tentang penyerahan kedaulatan Indonesia tanggal 21 Desember 1949 (N.S) 1949 – J 570;L.N. 1950 – 2, yang mulai berlaku pada tanggal 22 Desember 1949. (Irawan Soejito,1984 : 155 – 156).
Setelah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia diakui dunia Internasional akhir maret1950, Landschaap Kotawaringin dengan LN RIS – 16 jo BNRIS 1950 – 23 masuk kedalam Republik Indonesia tanggal 1 Mei 1950, tetapi statusnya sebagai Landscap masih terus berlangsung. Setelah resmi menjadi bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia, Swapraja Kotawaringin berada di bawah Kabupaten Kotawaringin yang telah berdiri sejak 27 Desember 1949 dengan ibu kotanya Sampit.
Sebagai daerah Swapraja, Kotawaringin terbagi menjadi beberapa kecamatan yang dikepalai oleh seorang Asisten Wedana atau kiai yang dikemudian hari disebut camat : (Lontaan dan Sanusi, 1976 : 90)
a. Kecamatan Arut Selatan ibukotanya Pangkalan Bun
b. Kecamatan Kumai ibukotanya Kumai
c. Kecamatan Sukamara ibukotanya Sukamara
d. Kecamatan Bulik Ibukotanya Nanga Bulik.
Pembagian wilayah kecamatan ini mengikuti Onderdistrict yang telah dilakukan oleh Belanda. Tetapi karena prasarana dan sarana transportasi masih menggunakan sungai, sehingga wilayah kecamatan yang terletak jauh dari sungai menjadi sulit terjangkau. Ibukota-ibukota kecamatan tadi sebenarnya telah berkembang menjadi kota semenjak jaman Hindia Belanda sebagai tempat pengumpul hasil bumi dan pusat distribusi barang yang didatangkan dari luar daerah.
Setelah berjalan beberapa tahun dibawah kabupaten Kotawaringin yang beribukota di Sampit atas kemauan Rakyat yang disalurkan melalui beberapa partai dan Organisasi yang saat itu ada di Pangkalan Bun. Rakyat menghendaki pemisahan diri dari kabupaten Kotawaringin dan penghapusan daerah Swapraja menjadi suatu daerah kabupaten sendiri. Pembentukan Kotawaringin barat diawali dengan Propinsi Kalimantan Tengah terlebih dahulu berdasarkan Keputusan Mendagri Nomor : UP.34/41/24 tanggal 28 Desember 1957, kemudian barulah menyusul keluarnya SK. Nomor : Des.52/12/2.206 tanggal 22 Desember 1959 tentang pembagian Kabupaten Kotawaringin timur dan kabupaten Kotawaringin barat.
Menurut data yang penulis peroleh dari Kantor Badan Pusat Statistik kabupaten Kotawaringin Barat, dapat dijelaskan bahwa letak Geografis wilayah kabupaten Kotawaringin Barat ada saat berdiri sendiri sebagai kabupaten baru adalah terletak diantara 0o18 LU – 3o30’LS dan 110o5’ – 112o50’ BT. Batas wilayah kabupaten Kotawaringin saat itu adalah :
­ Sebelah Timur berbatasan dengan kabupaten Kotawaringin Timur.
­ Sebelah Barat berbatasan dengan Propinsi Kalimantan Barat.
­ Sebelah Utara berbatasan dengan Propinsi Kalimantan Barat.
­ Sebelah Selatan berbatasan dengan laut jawa.
Keadaan Topogarafis Daerah Kebupaten Kotawaringin Barat pada umumnya adalah :
­ Sebelah Utara adalah pegunungan dan tanah lotosal tahan terhadap erosi.
­ Sebelah Selatan adalah terdiri dari danau dan rawa allupial yang banyak mengandung air.
­ Bagian Tengah adalah tanah padsoklik merah kuning, juga tahan erosi.
Iklim daerah kabupaten Kotawaringin barat adalah iklim tropis yang dipengaruhi oleh musim kemarau dan musim hujan. Musim kemarau terjadi pada bulan Juli sampai dengan September, sedangkan musim penghujan pada bulan Januari sampai Juni dan Oktober sampai dengan Desamber.
Kota Pangkalan Bun sendiri terletak di kecamatan Arut Selatan, yang terdiri dari beberapa desa yaitu : (Lontaan dan Sanusi, 1976 : 4)

a. Desa Sidorejo
b. Desa Madurejo
c. Desa Mendawai
d. Desa Mendawai Seberang
e. Desa Raja
f. Desa Raja Seberang
g. Desa Baru
h. Desa Pasir Panjang
i. Desa Kenambui
j. Desa Junjung Puteri
k. Desa Rangda
l. Desa Sulung
m. Desa Runtu
n. Desa Umpang

Keadaan Penduduk

Keadaan penduduk di kota Pangkalan Bun yang terletak saat itu di daerah Swapraja Kotawaringin, tidak bisa dilepaskan dari daerah aliran kepada sungai. Di daerah ini terdapat empat sungai besar, yakni Sungai Jelai, Sungai Arut, Sungai Lamandau dan Sungai Kumai, serta puluhan anak sungai lainnya. penduduk asli yang tinggal di daerah ini adalah suku dayak yang berindukan Dayak Ngaju. Kedekatan Suku dayak dengan sungai mengakibatkan mereka mengidentifikasikan dirinya, atau masyarakatnya dengan nama sungai. (Bappeda, 2004 : 3). Menurut Nahan telah bermukim sejak lama beberapa Suku Dayak di daerah ini antara lain :
a. Suku Dayak Arut, berkedudukan di Pandau.
b. Suku Dayak Darat, mereka telah mengirim upeti ke Kerajaan Majapahit sebelum kerajaan Kotawaringin ada.
c. Suku Dayak Didang, Belantikan dan Batang Kawa, berkedudukan di Kudangan, mereka mengirim upeti kepada kerajaan Banjar.
d. Suku Dayak Jelai yang berdialek jelai dan termasuk kelompok Dayak Ketung, mereka berdiam di daerah jelai dan Kotawaringin lama.
e. Suku Dayak Bulik yang juga merupakan kelompok Dayak Ketung, bertempat tinggal di daerah sungai Bulik dan Kotawaringin lama bagian utara.
Mengenai keberdaan orang Dayak di Kalimantan, terdapat dua pendapat yaitu Menurut Waldemar Stocdar di Kalimantan Utara terdapat Dayak Kalimantan, sedangkan Menurut Cilik Riwut Dayak Kalimantan itu sama dengan Dayak Darat yang bermukim di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, tepatnya di Kotawaringin. Pada umumnya orang-orang dayak memeluk agama kaharingan atau Kristen, sedangkan orang dayak yang telah masuk islam menyebut dirinya melayu, (Bappeda, 2004 : 5).
Pembagian suku-suku di Kalimantan sendiri sukar untuk dijelaskan karena perkataan suku melayu banyak digunakan dalam pengertian pembagian agama, meskipun banyak juga suku melayu yang berasal dari Riau dan Semenanjung Malaka. Menurut Malin Cordt bahwa suku melayu yang berada di pesisir adalah sebagian keturunan dari Penduduk Jawa pada masa Majapahit, penduduk ini juga bisa datang dari Bengawan di sungai sedulun dan Melayu Tarakan. Sedangkan dari hasil wawancara penulis dengan Gusti Achmad Yusuf dijelaskan bahwa sudah ada suku Melayu yang berasal dari Brunei, jauh sebelum perkampungan Pangkalan Bun mulai ramai.
Mengenai migrasi suku banjar (Banjar Kuala) ke Kotawaringin terutama terjadi pada masa pemerintahan Raja Manuhum atau Sultan Musta’inbillah (1650 – 1672), yang telah mengijinkan berdirinya kerajaan Kotawaringin itu sendiri dengan raja pertamanya Pangeran Adipati Antakusuma, (www.wikepdia.org). sehingga sangat jelas terjadi juga percampuran antara suku banjar dengan suku dayak yang telah lebih dahulu mendiami daerah-daerah yang berada di bawah kesultanan Kotawaringin. Mengenai persahabatan antara Suku Dayak Arut dengan suku Banjar terdapat sebuah cerita yang menarik yang termuat di dalam buku Lontaan dan Sanusi, yaitu disepakati Suatu Pemufakatan untuk menjalin hubungan baik diantara kedua suku tersebut dengan “Perjanjian Daerah”, yakni upacara yang meminta tumbal dari masing-masing kelompok satu orang untuk dipenggal kepalanya sebagai korban. Ditambahkan oleh Gusti Achmad Yusuf bahwa selain nyawa manusia, dikorbankan juga seekor babi dari suku dayak dan Kambing dari suku banjar. Kemudian di atas kuburan korban tersebut diletakkan sebuah batu peringatan yang disebut Batu Petahan.
Pada masa Sultan ke XIV yaitu Pangeran Ratu Anum Kesuma Alamsyah (1939 – 1948), terjadi perluasan kota untuk pemukiman penduduk yaitu : (Bappeda, 2004 : 18)
a. Di kampung Mendawai, membuka lokasi baru untuk pemukiman penduduk Mendawai yang selama itu tinggal di sungai Karang Anyar, maka dikenallah tempat itu dengan sebutan sungai Bulin.
b. Di kampung Raja, membukja lokasi baru untuk tempat pemukiman penduduk kampung Raja yang banyak tinggal di pedukuhan / ladang-ladang, maka dikenallah tempat itu dengan kampung sungai Bu’un tau disebut juga kampung Baru, sekarang menjadi Kelurahan baru.
c. Di jalan Pangkalan Bun ke Kumai, di depan simpang Mendawai, dibuka pemukiman orang-orang yang berasal dari Jaw, sekarang menjadi kelurahan Sidorejo.
Menurut Lontaan dan Sanusi, penduduk asli yang bermukim di Kabupaten Kotawaringin Barat berasal dari Suku Dayak Ngaju,yang kemudian dapat diuraikan lagi sebagai berikut :
a. Suku Mendawai
b. Suku Ruku Mapan
c. Suku Darat
d. Suku Lamandau
e. Suku Bulik
f. Suku Mentobi
g. Suku Belantikan
h. Suku Batang Kana / Kawak
i. Suku Delang ulu dan Ilir
j. Suku Banjar
Selain suku-suku ini juga disebutkan sudah mulai ada Suku Jawa dan Madura, serta suku bangsa Cina atau Tionghoa yang sudah menetap di kota Pangkalan Bun.
Ciri-ciri fisik Dayak Ngaju adalah tulang pipi agak menonjol, muka agak Bundar sampai mendaun, kuping sedang dan tipis, hidung tidak terlalu mancung, dahi berukuran sedang, rambut lurus sampai ikal, leher sedang, tinggi badan diatas 150 cm sampai 170 cm, dada tidak terlalu bidang dan tidak tebal, perawakan agak kurus, kaki khususnya betis banyak yang berbentuk O dan tubuh tidak berbulu (Dep. P&K, 1982 : 81 – 82).
Adapun jumlah penduduk kota Pangkalan Bun dari tahun 1950 – 1960, tidak penulis peroleh secara rinci. Di kantor Badan Pusat Statistik Kotawaringin Barat penulis hanya menemukan arsip terutama pada tahun 1982, alasan ketidaktersediaan data yang lengkap di kantor tersebut adalah bahwa setiap 10 tahun sekali data-data di kantor tersebut di musnahkan. Hal ini yang sangat disayangkan oleh penulis, karena jika ada peneliti yang menginginkan data-data tentang kota Pangkalan Bun pada tahun-tahun yang telah lampau, maka akan sulit memperoleh data-data tersebut. Sedangkan di buku karangan Lontaan dan Sanusi hanya menyebutkan jumlah penduduk kabupaten Kotawaringin Barat pada tahun 1976.
Untuk melengkapi data tentang jumlah penduduk kota Pangkalan Bun pada tahun 1950 – 1960, berikut akan penulis cantumkan data tentang jumlah penduduk Indonesia hasil sensus penduduk tahun 1930 dengan tahun 1961, sebagai bahan perbandingan tentang keadaan penduduk di kota Pangkalan Bun saat itu. Jumlah penduduk Indonesia (Martono dan Saidihardjo, 1983 : 26 – 27).

a. Tahun 1930 60,7 Juta Jiwa
b. Tahun 1961 97 Juta Jiwa
c. Tahun 1971 119,2 Juta Jiwa
d. Tahun 1976 129,9 Juta Jiwa
Kepadatan masing-masing pulau yaitu :
a. Pulau Jawa dan Madura 565 / Km2
b. Pulau Sumatera 38/ Km2
c. Pulau Kalimantan 9/ Km2
d. Pulau Sulawesi 37/ Km2
e. Pulau-Pulau lain 14/ Km2

Keadaan jumlah Penduduk Pulau Kalimantan, luas tanah dan Kepadatan Penduduk berdasarkan sensus 1971 adalah sebagai berikut :
Propinsi Penduduk % Luas / km2 Kepadatan
Kalbar 2.019.963 1.69 157.066 13
Kalteng 699.589 0.59 156.556 4
Kalsel 1.699.105 1.42 34/611 49
Kaltim 733.536 0.62 202/619 4
Dari beberapa data perbandingan diatas dapat disimpulkan bahwa keadaan penduduk di Kalimantan Tengah masih sedikit dibandingkan dengan daerah Kalimantan lainnya, begitu juga tentang presentasi dan kepadatannya. Di kota Pangkalan Bun sendiri tentunya juga masih dihuni oleh penduduk yang sangat sedikit. Hal ini diperkuat dengan keterangan dari H. Tengku Syahrial. Bahwa Pangkalan Bun saat itu masih merupakan kota kecil dan Ketika pihak kerajaan mengadakan acara Kenduri di Istana, maka Rakyat akan dijamu makan gratis di istana selama 3 hari – 3 malam.

Sistem Mata Pencaharian

Sebagian besar penduduk Kotawaringin Barat khususnya kota Pangkalan Bun, mempunyai mata pencaharian dari hasil hutan dan secara sambilan mengerjakan pertanian, perkebunan serta nelayan. Hasil hutan yang utama saat itu adalah kayu Meranti dan Ramin yang telah dijual ke luar daerah. Bahkan dari hasil wawancara penulis dengan H. Tengku Syahrial disebutkan bahwa Pangkalan Bun terletak dalam jalur perdagangan hingga keluar negeri, karena dilalui rute perdagangan Banjarmasin → Pangkalan Bun → Singapura. Hasil hutan yang dikerjakan oleh penduduk antara lain :
a. Atap Sirap ulin
b. Kayu Keruing
c. Rotan
d. Jelutung
e. Damar
Di dalam buku karangan Lontaan dan Sanusi juga dijelaskan bahwa pertanian Rakyat masih sederhana penggergajiannya, karena masih menggunakan cara-cara tradisional dan belum menggunakan pupuk. Pertanian ini banyak di sektor tanaman padi dan masih dilakukan dengan sistem perladangan yang berpindah-pindah di tanah tinggi (Natai). Selain Pertanian, perkebunan Rakyat juga belum memberikan pemasukan yang banyak pada saat itu dengan perincian sebagai berikut :
a. Karet
b. Kelapa
c. Kopi
d. Cengkeh
(60% adalah tanaman muda yang belum berubah)
Di bidang perikanan (darat dan laut), walaupun cukup potensial namun belum cukup mendapat tanggapan yang semestinya. Daerah Tanjung Puting misalnya, yang banyak terdapat ikan disana, kerap kali menjadi daerah operasi nelayan-nelayan dari daerah lainnya. mengenai peternakan, pada tahun-tahun tersebut sudah ada masyarakat yang memelihara sapi, khususnya di daerah pedalaman dengan cara sederhana. Caranya adalah dengan melepas begitu saja sapi-sapi itu di alam terbuka dan sewaktu-waktu diberi air garam untuk menjinakkannya.
Di kota Pangkalan Bun juga berkembang kerajinan Rakyat yaitu : (Lontaan. 1976 : 146 – 148)
A. Kecubung
Hasil kerajinan Rakyat juga banyak penggemarnya, yakni perhiasan Batu Kecubung. Batu-batu kecubung ini biasa dibuat hiasan cincin, gelang dan liontin, dengan warna dominan biru / ungu.
B. Duyung
Kerajinan dari gigi taring ikan yang biasanya dijadikan pipa isapan rokok. Saat ini pemerintah sudah melarang penangkapan ikan tersebut karena termasuk binatang yang dilindungi, dan juga agar ikan ini tidak punah.

C. Tetudung
Kerajinan ini dibagi dalam 3 jenis yaitu :
­ Jenis Tudung Saji berbentuk besar dengan diameter 65Cm, yang pada bagian kulit luarnya yang melengkung dihiasi dengan manik warna-warni dan benda-benda lain yang mengkilat. Tudung saji jenis ini pada jaman dulu umumnya digunakan oleh pengantin baru.
­ Jenis Tudung Saji Biasa. Bentuk dan fungsinya sama dengan Tudung saji yang sebelumnya, hanya saja tidak dihiasi dengan manik-manik, melainkan dicat warna merah yang bahannya dari getah kayu “Jeremang”
­ Jenis Tudung Saji Hiasan. Bentuknya kecil dan umumnya digunakan untuk hiasan dinding pada bagian luar kulitnya yang melengkung dihiasi manik warna-warni yang membentuk lambing atau nama dari si pemesan.
Adapun rintangan yang dihadapi oleh para pedagang dalam memasarkan barang adalah dalam hal pengangkutan barang, yakni adanya daerah-daerah hulu sungai yang beriam-riam yang dapat menghambat perjalanan dan dapat membuat kapal karam. Sulitnya medan yang dilalui karena hanya mengandalkan jalur sungai membuat hanya barang menjadi tiga kali lipat di bandingkan dengan daerah muara sungai dan tepi pantai. Pada saat itu juga masih berlaku pertukaran barang terutama di daerah-daerah pedalaman. Selain sudah mulainya digunakan uang. Mengenai pembagian uang saat itu, penulis peroleh dari hasil wawancara dengan H. Tengku Syahrial adalah sebagai berikut :
­ 1 sen (tembaga) nilainya adalah 2 remis
­ 1 ½ sen nilainya adalah sebenggol / 1 benggol
­ 2 benggol nilainya adalah 1 klib (nikel)
­ 2 klib nilainya adalah 1 ketib
­ 25 sen nilainya adalah 1 tali
­ 2 tali nilainya adalah 1 suku
­ 2 suku nilainya adalah 1 rupiah
­ 1 rupiah nilainya adalah 100 sen
­ 2 ½ rupiah nilainya adalah 1 ringgit.

Sistem Pendidikan

Perhatian pendidikan pada saat Hindia Belanda kurang diperhatikan. Tugas pendidikan untuk anak-anak pribumi dilakukan oleh badan swasta yakni Zending. Zending dengan keterbatasan dana dan tenaga sukar untuk mendirikan sekolah-sekolah yang mampu menjangkau Rakyat banyak. Sedangkan bantuan yang diberikan pemerintah Belanda berupa subsidi banyak yang dikurangi karena politik penghematan. Akibat penghematan ini uang sekolah menjadi mahal dan banyak anak-anak pribumi yang tidak mampu meneruskan sekolahnya.
Kesulitan utama bagi pendidikan di Kotawaringin adalah kesediaan tenaga guru yang sangat terbatas. Tenaga-tenaga yang terpilih menjadi guru dikirim terlebih dahulu ke Depok untuk dididik. Sekolah guru ini adalah satu-satunya milik zending. Baru pada tahun 1902 zending mendirikan sekolah guru di Banjarmasin yang disebut Seminari. Lulusan seminari ini yang kemudian mengajar di sekolah desa selama tiga tahun (Volk School) dan sekolah lanjutan selama dua tahun (Vervolg School).
Menjelang kedatangan Jepang, sebagian besar sekolah-sekolah tersebut di bantu oleh badan swasta Dayak Evangelis karena sekolah-sekolah swasta tidak mendapat subsidi dari pemerintah Hindia Belanda, guru-guru sekolah sekolah-sekolah tersebut orang-orang pribumi. Juga kesempatan untuk memperoleh pendidikan pada masa Hindia Belanda adalah hanya mereka yang mampu membayar uang sekolah saja.
Ketika Jepang masuk, mereka menemukan sekolah-sekolah swasta ini tetap berjalan dengan guru-gurunya yang digaji oleh penduduk kampung. Pemerintah penjajahan Jepang mengambil alih semua sekolah swasta ini dan semua gurunya digaji oleh pemerintah pendudukan Jepang. Pelajaran bahasa Jepang dengan intensif sekali diajarkan kepada anak-anak sekolah. Setiap pagi sebelum masuk kelas selalu diadakan upacara bendera mengibarkan bendera Jepang dan penghormatan ke arah matahari terbit. Setelah upacara selesai disambung dengan gerak badan yang disebut faiso. (Bappeda, 2004 : 25). Selain itu siswa-siswa juga diajarkan pelajaran menyanyi oleh tentara Jepang yang setiap hari datang ke sekolah. Penyebaran kebudayaan Jepang juga semakin luas seperti tari-tarian ala Jepang dan sekolah-sekolah Rakyat juga diperintahkan untuk mengadakan latihan sandiwara untuk dipentaskan pada hari-hari besar bangsa Jepang. (Bappeda, 2005 : 38).
Dalam perkembangan pendidikan di kota Pangkalan Bun setelah melalui fase pemerintahan Hindia Belanda, pendudukan Jepang, Swapraja, hingga menjadi kabupaten sendiri. Sejak tahun 1955 di bidang pendidikan dasar wilayah Pangkalan Bun telah ditunjuk sebagai kepala inspeksi sekolah Rakyat wilayah yaitu L. Ronteng, sendangkan sejak daerah ini berstatus kewedanaana / daerah Swapraja, sudah ada kantor inpeksi pendidikan jasmani wilayah Pangkalan Bun yang statusnya masih di bawah Sampit dan dikepalai oleh madjekur. (Bappeda, 2004 : 94).
Sejak tahun 1959 di daerah ini sudah ada berdiri kantor inspeksi pendidikan masyarakat yang dikepalai oleh Abdurani yang statusnya masih di bawah Sampit. Kegiatannya sampai dengan 1961 bergerak dalam pemberantasan buta huruf di kampung-kampung dan penyebaran perpustakaan berupa buku-buku bahkan dengan tenaga pengajar bersifat sukarela. (Lontaan dan Sanusi, 1976 : 100).

Sistem Kepercayaan

Sistem kepercayaan masyarakan Pankalan Bun mayoritas adalah beragama islam. Walaupun terdapat juga kepercayaan-kepercayaan lain seperti kaharingan dan Kristen, namun jumlahnya sangat sedikit. Sehingga sampai sekarang pun tempat ibadah agama selain islam bisa dihitung dengan jari. Perkembangan islam di Kotawaringin tidak lepas dari dai andil seorang ulama yang bernama kyai Gede, mengenai keberadaan kyai Gede terdapat berbagai versi cerita adapun beberapa versi cerita tersebut adalah :
a. Menurut Lontaan dan Sanusi Kyai Gede adalah seorang muslim yang ditemukan terikat pada sebatang pisang pada saat pembangunan kerajaan Kotawaringin, oleh kepala suku dayak laman dan ditolong dan dirawat serta diberi pembantu, karena sikapnya yang mengerti tata tertib dan sopan santun sehingga Rakyat sangat tertarik untuk memeluk agama yang dianutnya. Selain pengetahuan agama Kyai Gede juga memberikan pengetahuan tentang perang karena beliau merupakan Kyai dan pahlawan dari Majapahit.
b. Menurut Legenda Rakyat, pada waktu rombongan Pangeran Adipati Anta Kesuma mendarat di tepi sungai Lamandau mereka didatangi oleh rombongan Demang tujuh bersaudara dan Kyai Gede. Setelah kedua rombongan berperang dengan kemenangan di pihak Pangeran Adipati Antakesuma, kyai gede dan rombongannya sepakat mengangkat Pangeran Adipati Antakesuma menjadi raja. Yang menari dari legenda Rakyat ini, kyai Gede, Demang akar dan anaknya Sagar masuk agama islam. Demang akar dan Sagar masing berganti nama menjadi Demang Silam (Solam) dan Selamat. Sedangkan keenam demang lainnya pindah ke darat (pedalaman) kutaringin / Kotawaringin (Bappeda, 2004 : 8).
c. Menurut Nahan hasil wawancaranya dengan Gusti Dumai Anas, mengatakan bahwa berdirinya kerajaan Kotawaringin oleh Pangeran Adipati Antakesuma tidak dapat dipisahkan dari kedatangan kyai Gede yang mendahului kedatangan Pangeran Adipati Antakesuma di daerah Kotawaringin. Dikisahkan Kyai Gede adalah seorang ulama dari Demak yang kemudian pergi ke kerajaan Banjar kemudian diperintah Raja Banjar yaitu Sultan Mustainullilah / Mustainullah/Mustainbillah untuk membuka daerah wilayah barat Kerajaan Banjar. Hal ini dapat ditafsirkan bahwa kyai Gede adalah pembuka daerah baru dan sempat menghantarkan upeti ke Banjar sampai datangnya Pangeran Adipati Antakesuma.
Selama ini masih terjadi perdebatan siapakah sebenarnya Kyai Gede ?, apakah beliau seorang Muslim sebelum datang kekotawaringin ataukah seorang Hindu yang kemudian berpindah agama islam, atau juga apakah beliau seorang Dayak yang masuk Islam ataukah orang yang berasal dari Jawa. Hal ini masih menjadi perdebatan, karena minimnya sumber tertulis yang ada.
Diwilayah kecamatan Arut Selatan yang beribukotakan di Pangkalan Bun ini masih terdapat beberapa kesenian, kepercayaan dan tradisi yang berkembang di masyarakat hingga sekarang. Tradisi-tradisi tersebut sudah sejak lama terbentuk dari hasil percampuran budaya Dayak, Melayu dan Banjar. Beberapa upacara-upacara kebiasaan dalam hidup sehari-hari sudah mendapat pengaruh Islam, namun ada juga yang masih asli tanpa pengaruh Islam Khususnya di daerah Pedalaman.

Adapun kesenian, tradisi dan upacara-upacara tersebut antara lain : (Dispasenibud Kobar)
a. Di daerah pesisir
­ Hadrah yaitu kesenian tradisional daerah yang bersifat keagamaan berupa tari-tarian yang diiringi oleh pembacaan Shalawat dan Rebana, biasanya dimainkan pada saat perkawinan dan peringatan keagamaan.
­ Burdah yaitu upacara mengayun anak bayi pada saat berumur 7 sampai 10 hari.
­ Manggudading atau Banggas merupakan upacara mengayun anak juga.
­ Barudat yaitu pada saat membandingkan pengantin.
­ Rebana pada acara keagamaan.
­ Tampung Tawar pada acara perkawinan dan ritual lainnya.
­ Pantun Seloka yaitu kesenian dalam bentuk puisi
­ Merumpak Kotamara yaitu pertunjukan silat pada saat penerimaan tamu atau pengantin.
­ Jepen dan Tirik yaitu kesenian tarian tradisional.
­ Menyanggar banua adalah ritual memberi sesajen kepada makhluk halus.
­ Mamanda yaitu kesenian fragmen atau sandiwara.
­ Mangidung adalah upacara berbalas pantun pada saat menerima tamu.
­ Maulid yaitu peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
­ Bakocor yaitu upacara berbalas pantun pada saat pengantin pria mendatangi rumah pengantin wanita.
­ Mairak pengantin yaitu mengarak pengantin pria
­ Barowah untuk memperingati kematian seseorang
­ Doa A’kasah pada awal hijriah
­ Bararisik yaitu upacara lamaran
­ Bahatam Qur’an jika seseorang selesai belajar Al-Qur’an
­ Haulan memperingati kematian seseorang setiap tahun
­ Bahalarat yaitu pada saat mendirikan bangunan.
­ Doa selamat tolak bala pada saat ada musibah.
­ Menujuh hari untuk memperingati hari ketujuh orang meninggal.
­ Meniga hari untuk memperingati ketiga orang meninggal.
­ Menyeratus hari untuk memperingati hari keseratus orang meninggal.
­ Mandi Baya yaitu mandi-mandi pada saat seorang wanita hamil tujuh bulan.
­ Tajak tanah, mandi kebanyu yaitu pada saat bayi berumur 7 – 30 hari.
­ Menurun tanah yaitu pada saat jenazah dikuburkan.
­ Pamali adalah larangan
­ Batimung adalah acara membersihkan badan calon pengantin
­ Menjorah kubur adalah ritual berziarah ke kubur.
­ Memajang yaitu mendekorasi rumah dan kamar pengantin.
­ Barinjam yaitu ada acara panen padi secara gotong royong.
b. Pedalaman
­ Begondang yaitu upacara menerima tamu dengan adat Dayak.
­ Barayah yaitu acara belasungkawa untuk mengantar jenazah.
­ Potong Balerang yaitu tarian menyambut tamu.
­ Domang adalah Pemimpin kampung atau kepala adat.
­ Panta panti adalah pantangan
­ Babura adalah bersemedi di rumah yang meninggal dunia.
­ Badewa yaitu ritual pengobatan secara tradisional dengan menggunakan sesajen.

Aspek Pemerintahan Lokal

Setelah daerah Swapraja Kotawaringin resmi bergabung dengan negara Kesatuan Republik Indonesia tanggal 1 Mei 1050, daerah ini berada di bawah kabupaten Kotawaringin yang beribukota di Sampit yang dipimpin oleh seorang bupati bernama Cilik Riwut. Daerah Swapraja Kotawaringin sendiri dipimpin oleh seorang Wedana bernama Basri. Walaupun sebenarnya Swapraja Kotawaringin telah dimasukkan ke kabupaten Kotawaringin semenjak tanggal 27 Desember 1949 berdasarkan undang-undang No. 22 Tahun 1948.
Pada saat di swapraja Kotawaringin telah berdiri beberapa organisasi dan partai politik antara lain :
A. Partai Masyumi
B. Partai Nasional Indonesia (PNI)
C. Partai Kristen Indonesia (PARKINDO)
D. Sarekat Kerja Indonesia (SKI)
E. Badan Pekerja Republik Indonesia (BPRI)
F. Persatuan Wanita Indonesia (Perwani)
Daerah Swapraja Kotawaringin sebagai bagian dari kabupaten kotawaringin juga melakukan pemilihan wakil-wakil Rakyat yang akan duduk di DPRDS kabupaten Kotawaringin. Atas dasar ini maka pada waktu itu terpilih : (Lontaan dan Sanusi, 1976 : 91)
a. M. Abdullah Mahmud dari partai Masyumi
b. Ahmad Said dari BPRI
c. Dahlan Abas dari partai Masyumi
d. M. Sahloel dari PNI
e. Gusti M. Sanusi dari PNI
f. Djainuri dari SKI
g. I. Ismail dari Parkindo
Mengenai M. Sahloel karena sesuatu hal tidak dapat hadir sehingga diganti oleh Azhar Mukhtas. Ketujuh orang ini yang mewakili daerah Swapraja Kotawaringin di DPRDS Kabupaten Kotawaringin yang keseluruhannya terdapat 18 kursi. DPRDS ini dilantik tahun 1951, yakni sebelum terbentuknya Propinsi Kalimantan tengah dan masih berada dalam kawasan keresidenan Kalimantan Selatan.
Adapun orang-orang yang pernah menjabat sebagai Wedana / Wakil Kepala Daerah Swapraja Kotawaringin berturut-turut adalah sebagai berikut : (Bappeda. 2004 : 81)
a. Basri. BA
b. Gusti Ahmad
c. M. Saleh
d. Abdul Muis
e. Rozani
f. Syukur
g. C. Milling

Setelah beberapa tahun berada di bawah kabupaten Kotawaringin, muncullah tuntutan dari Rakyat swapraja Kotawaringin untuk memisahkan diri dan menghapus Swapraja menjadi kabupaten yang baru. Tuntutan ini disampaikan dalam sidang Pertama DPRDS tahun 1955 oleh wakil-wakil dari swapraja Kotawaringin, dengan mengajukan mosi tanggal 21 Juni 1955 yang ditandai tangani oleh : (Lontaan dan Sanusi, 1976 : 93).
a. Dahlan Abas
b. Abdullah Mahmud
c. Azhar Mukhtas
d. Ahmad Said
e. Djainuri
f. Gusti. M. Sanusi
Mosi tersebut disetujui hingga keluarlah keputusan DPRDS melalui resolusi tanggal 30 Juni 1955 No. A – 21 – 12 – dpr – 55 yang disampaikan kepada : (Bappeda, 2004 : 88)
a. Menteri Dalam Negeri Jakarta.
b. Gubernur / Kepala Daerah Propinsi Kalimantan Selatan di Banjarmasin.
c. Residen Kalimantan Selatan di Banjarmasin.
d. Bupati / Kepala Daerah Kabupaten Kotawaringin di Sampit.
Setelah adanya peninjauan dari pusat, maka keluarlah undang-undang No : 27 tahun 1959 tentang pembagian daerah tingkat dua Kotawaringin Timur dengan ibukotanya Sampit dan Kabupaten Kotawaringin Barat dengan ibukotanya Pangkalan Bu’un yang Akhirnya berubah nama menjadi Pangkalan Bun, yang pada saat itu telah menjadi bagian Propinsi Kalimantan tengah, dan diresmikan tanggal 3 Oktober 1959 dan mengangkat C. Milling menjadi Bupati Pertama kabupaten Kotawaringin Barat.
Untuk kelengkapan badan-badan / lembaga-lembaga dalam pemerintahan daerah Kabupaten Kotawaringin Barat dengan lahirnya Pen.Pres.No : 5/6 tahun 1960 dan berdasarkan S.K. Gubernur Kalimantan Tengah tanggal 17 Maret 1960. No : 35-PD-I-1960 diangkatlah 4 orang anggota Badan Pemerintah Harian (BPH) yang terdiri dari : (Bappeda, 2004 : 89)
a. Gusti. M. Sanusi
b. Lie Sian Bang
c. Ishak Permana
d. Djainuri
Badan ini berfungsi untuk membantu tugas Bupati dalam pemerintahan.
Melalui S.K. Gubernur Kalimantan Tengah tanggal 17 Oktober 1960 No0 : okt-317/60/Dprdgr, dibentuklah DPRDGR = Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Gotong Royong yang beranggotakan 15 orang sebagai berikut : (Lontaan dan Sanusi, 1976 : 95)
a. J.R. Lama Wakil Ketua Dari PNI
b. P. Arianingrat anggota Dari PNI
c. Said M. Tji anggota Dari NU
d. Abdussukur anggota Dari Seniman
e. A. Kamas anggota Dari PNI
f. LE. Djuang anggota Dari PKI
g. Gst. Abdul Gani anggota Dari NU
h. Said Husin anggota DariAngkatan 45
i. H. Barak anggota Dari Pengusaha Nasional
j. Selma anggota Dari Wanita
k. Ajang Bahan anggota Dari ABRI / POLRI
l. Gst. Kiting anggota Dari Pemuda
m. Gst. Hermansyah anggota Dari NU
n. Mas Karim DW anggota Dari Tani
o. H. A. MAS Alipandi anggota Dari ABRI / AD
Keseluruhan anggota DPRDGR ini dilantik oleh Gubernur Kalimantan Tengah saat itu yaitu Cilik Riwut tanggal 12 Januari 1961.

Posted by: lukmanc | March 30, 2008

Kopi Andalan

Kopi Tetap Jadi Andalan Ekspor

images4.jpgJakarta – Kopi merupakan salah satu komoditas ekspor andalan Indon

esia. Sejak jaman Hindia Belanda sampai saat ini, Indonesia menjadi negara produsen kopi terbesar ke empat setelah Brazil, Kolombia dan Vietnam. Sebelumnya posisi Indonesia berada pada posisi ketiga.

”Untuk itu kita patut dan perlu lebih me-naruh perhatian terhadap Vietnam sebagai negara produsen kopi yang sangat agresif saat ini. Kopi Vietnam telah membanjiri kopi di pasar dunia dan berhasil menggeser posisi Indonesia dari posisi ketiga menjadi keempat sebagai produsen kopi di dunia,” ujar Menperindag Rini Suwandi, beberapa waktu lalu..
Keberhasilan Vietnam antara lain disebabkan tingginya produktivitas dalam budi daya kopinya yang mencapai 1,8 ton per hektare. Sedangkan produktivitas budi daya kopi Indonesia hanya mencapai 0,58 ton per hektare. Sementara itu perdagangan dunia didominasi kopi jenis Arabika (70 persen) dan Robusta (30 persen). Sedangkan kopi yang ditanam di Indonesia jenis Arabika (10 persen) dan Robusta (90 persen).
Indonesia dan Vietnam memang merupakan dua negara produsen kopi terbesar di du-nia, setelah Brasil. Di Indonesia sendiri, Sulawesi Selatan (Sulsel) merupakan salah satu daerah sentra produksi kopi dengan luas areal penanaman mencapai 61.285 hektare. Berdasarkan dari Disbun Sulsel, rata-rata produksi kopi Sulsel setiap tahunnya mencapai 18.000 ton.
Asosiasi pengusaha kopi Indonesia sudah menandatangani kesepakatan pengaturan teknis (technical arrangement) volume produksi dan volume ekspor kopi, khususnya kopi robusta, dengan pengusaha Vietnam. Dengan pengaturan teknis itu, diharapkan harga kopi robusta dapat meningkat. Menurut Ketua Umum Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), Hasan Wijaya, harga kopi robusta sekarang ini hanya 60 sen US$ per kg, sementara harga kopi arabika mencapai US$ 1,75/kg.
Menurut Hasan, harga kopi robusta sekarang ini masih rendah, karena adanya permainan pedagang. “Kita selalu dipermainkan dan diadu domba dengan produsen dari negara lain, seperti Vietnam sehingga harga tidak naik,” katanya.
Jika harga kopi robusta mencapai satu dolar AS per kg, diharapkan harga kopi di tingkat petani pun dapat naik menjadi Rp 5.000-Rp 6.000 per kg. Sekarang ini, harga jual kopi di tingkat petani baru sekitar Rp 3.700 per kg. Untuk itu, sarannya, pengusaha kopi Indonesia dan Vietnam akan mengurangi produksi hingga mencapai 50 persen secara bertahap. “Tahapan- tahapannya dan besarannya masih akan kami negosiasikan. Yang penting, harga dapat naik secara bertahap,” katanya.
Produksi kopi di Vietnam sekarang ini lebih kurang 600.000 ton. Produksi kopi Viet-nam sempat mencapai 900.000 ton tahun 2001-2002. Sementara itu, produksi kopi di Indonesia sekarang ini sekitar 350.000 ton. “Sebanyak 100.000 ton sampai 120.000 ton untuk konsumsi lokal,” katanya.
Sementara menurut beberapa pelaku bisnis kopi nasional, kesepakatan mengangkat harga kopi itu sulit direalisasikan karena sebenarnya tidak diketahui stok atau produksi kopi, baik di Indonesia maupun di Vietnam. Kalau tidak diketahui secara pasti, bagaimana kesepakatan untuk mengurangi produksi dapat dilaksanakan.

Dominan Robusta
Umumnya petani di Indonesia menanam kopi jenis robusta, yang belakangan ini harganya memang rendah. Sementara kopi jenis arabika hanya ditanam sebagian kecil petani. Padahal, harga kopi arabika di pasar dunia masih tetap tinggi. Di pasar dunia saat ini kopi robusta sedang membanjiri pasaran, terutama kopi robusta produksi Brasil dan Vietnam. Kopi jenis ini umumnya ditanam petani di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Provinsi Bengkulu, Lampung, dan Sumatera Selatan. Kopi arabika hanya ditanam oleh kurang dari 10 persen petani kopi di tiga kawasan itu.
Kopi arabika di Indonesia umumnya ditanam petani di Aceh, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Bali, dan Nusa Tenggara Timur. Petani-petani penanam kopi arabika mendapat penghasilan lebih baik karena produksi dunia tidak melimpah seperti kopi robusta. Dengan sendirinya harga kopi itu pun stabil.
Sedikitnya lahan yang ditanami kopi arabika oleh petani Provinsi Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Lampung, merupakan kesalahan dalam menentukan pilihan. Mungkin karena pengaruh petani lain, ratusan ribu petani di tiga provinsi itu lebih memilih menanam kopi robusta.
Kebetulan pula, petani di Brasil dan Vietnam umumnya menanam kopi sejenis pula. Akibatnya, ketika musim panen berlangsung bersamaan dengan panen di dua negara itu dan negara produsen lain, harga pun bersaing keras. ”Suplai kopi lebih besar dibandingkan dengan permintaan sehingga harga pun anjlok. Kopi dari Indonesia harus bersaing dengan kopi dari negara lain.
Menurut data, harga kopi robusta ditentukan oleh bursa kopi di London, dan Inggris. Sementara kopi arabika ditentukan oleh bursa kopi di New York, Amerika Serikat (AS). Produksi yang melimpah itulah yang membuat harga kopi tertekan. Bagi petani Indonesia, harga kopi yang tertekan akibat kelebihan produksi itu makin menyulitkan pemasaran. Hal ini disebabkan produsen kopi negara lain berani menjual dengan harga lebih murah dibanding kopi asal Indonesia.

Daftar Hitam
Soal produksi, bandingkan dengan petani Bengkulu, Pagar Alam, Lahat, atau Lampung. Di sentra-sentra produksi kopi tersebut, produksinya paling tinggi 500 kilogram per hektar. Sementara di Vietnam mampu menghasilkan dua ton biji kopi kering per hektar.
Dengan penghasilan lebih tinggi, tentu saja petani Vietnam hidup lebih layak. Itu terwujud berkat kegigihan mereka mengolah dan merawat kebun jauh lebih baik dibandingkan dengan petani di Tanjung Sakti, Kabupaten Lahat. Ditambah dengan mutu yang lebih bagus, kopi Vietnam lebih mampu menembus pasar dunia.
Kopi Indonesia memang masih tetap dikapalkan ke berbagai negara oleh para eksportir. Namun, mereka harus menanggung kerugian tidak sedikit, karena harga jual di luar negeri lebih rendah dibandingkan dengan harga pembelian dari pedagang pengumpul.
Untuk kembali modal saja sulit bagi eksportir. Mereka masih menjual kopi kepada pembeli luar negeri karena sebelumnya terikat kontrak jual beli. Kalau eksportir ingkar janji, mereka akan dimasukkan daftar hitam. Ini akan menyulitkan usaha ke depan.
Para eksportir kopi di Sumatera bagian selatan kebanyakan berada di Lampung. Mereka membeli kopi dari ratusan pedagang pengumpul yang dari Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Lampung. Karena banyak pedagang yang datang menjual kopi mereka, eksportir pun bisa membeli dengan selisih harga yang tidak terlalu menganga dengan harga jual rugi kepada pembeli asing.
Menurut data Humas AEKI Provinsi Lampung, hingga April 2003, ekspor kopi Lampung lebih dari 49.000 ton dengan nilai ekspor lebih dari 30 juta dolar AS. Jumlah sebanyak itu naik sekitar 5.000 ton jika dibanding-kan dengan periode yang sama tahun 2002 yang 44.600 ton dengan nilai ekspor 18,5 juta dolar AS.
Semestinya produksi kopi asal Lampung dapat ditingkatkan karena kawasan tersebut memiliki lahan dan iklim yang pas untuk kopi. Namun karena buruknya harga kopi di pasar dunia, petani pun enggan mengurus tanaman mereka. Saat ini di Lampung terdapat sekitar 141. 500 hektare tanaman kopi yang menghasilkan, dan sekitar 12.400 hektare kebun yang belum menghasilkan. Dari total luasan itu, setiap tahun diperkirakan total produksi kopi Lampung 150.000 ton, dengan asumsi rata-rata per hektare kebun menghasilkan 700 kg hingga 800 kg kopi.
Hal itu berbeda dengan petani Vietnam yang mengolah lahan mereka lebih baik sehingga mampu memproduksi lebih dari tiga ton kopi per hektare. Meski pasar dalam negeri tidak mampu menyerap semua produksi tersebut, Vietnam masih memiliki peluang besar menjual produksi kopi di pasar dunia dengan harga lebih rendah.
Tapi produsen kopi yang hanya berorientasi lokal tak terlalu khawatir sebab kebutuhan konsumen dalam negeri lumayan tinggi. Bukan hanya kopi merek tertentu yang bergelimang untung, tapi juga produsen kopi tak bermerek, ikut berkibar. Lihat saja, bagaimana konsumen Jakarta, misalnya, menyukai kopi sidikalang atau kopi medan dan sebagainya. Kebutuhan masyarakat pada kopi tanpa merek tersebut sudah sejak dulu. Sayangnya data akurat seberapa besar serapan produksi lokal pada pasar lokal, tidak terdapat di instansi resmi sekalipun!
(SH/gatot irawan/danang joko)

 

Posted by: lukmanc | March 27, 2008

Kopi Jawa

images3.jpgSebelum mulai dengan Java, kita mulai lagi dengan sejarah kopi. Terdapat sebuah versi lain sejarah kopi yang tidak melibatkan domba. Masih dari Ethiopia, kisah ini hanya dimulai dari Ali al-Shadili yang gemar meminum sari biji kopi untuk membuatnya tetap terjaga demi menjalankan shalat malam. Tak lama, kopi menjadi komoditas yang diekspor ke Eropa, terutama dari daerah Kaffa di Ethiopia. Orang Eropa menamainya mocha. Bijinya tidak boleh diekspor, kecuali sudah dalam keadaan terpanggang, dan tak dapat ditanam lagi. Tapi penyelundup selalu ada. Tak lama, penjajah di nusantara sudah mulai membudidayakan tanaman kopi di Jawa.

Di Jawa, kopi mula2 ditanam di sekitaran Jayakarta, meluas ke Jawa Barat, dan kemudian lebih diperluas ke Jawa Timur, serta kemudian ke luar Jawa. Varietasnya arabika. Sebuah pameran yang digelar di AS (dengan dana yang cukup besar, ditanggung industri kopi Jawa) membuat publik Amerika mulai mengenal kopi dan menjuluki minuman ini sebagai Java. Nusantara, khususnya Jawa, menjadi pengekspor kopi terbesar dan terbaik di dunia. Malangnya, terjadi wabah di tahun 1880an, yang memusnahkan kopi arabika yang ditanam di bawah ketinggian 1km dpl, dari Shri Lanka hingga Timor. Brasil dan Colombia mengambil alih peran sebagai eksportir kopi arabika terbesar, sampai kini. Sementara itu, varietas kopi di sebagian besar Jawa diganti dengan liberika. Tapi tak lama, wabah yang serupa memusnahkan varietas ini juga, sehingga akhirnya 90% kopi di Jawa diganti dengan varietas robusta, kecuali di tempat yang betul2 tinggi.

Setelah para penjajah didepak, kebun2 kopi dinasionalisasi dan/atau diprivatisasi. Adalah PTPN XII (a state-owned company) yang kini mengelola kopi yang disebut sebagai Java Estate. PTPN XII yang mengelola beberapa perkebunan di pegunungan Ijen (Jawa Timur) hingga kini tetap memelihara varietas arabika dengan kualitas amat tinggi. Kebun2nya terletak di Blawan (2500 Ha), Jampit (1500 Ha), Pancoer (400 Ha), dan Kayumas (400 Ha), dengan ketinggian antara 900 hingga 1600 m dpl. Hasil tahunan mencapai sekitar 4 ribu ton biji kopi hijau. 85% biji diekspor sebelum dipanggang. Kalau kebetulan menjenguk Starbucks di Bandung, dan mengamati ada sekantung kopi berlabel Java Estate, nah itulah kopi Jawa yang berkeliling dunia sebelum kembali ke negerinya.

Di dekat kawasan PTPN XII, terdapat juga perkebunan Kawisari dan Sengon, dengan luas 880 Ha, dan ketinggian lebih rendah dibandingkan kebun2 milik PTPN XII. Kopinya 95% robusta, dan sisanya arabika. Hasilnya banyak digunakan untuk industri kopi di sekitar Jawa Timur. Di Jawa Tengah, di kawasan Losari yang dikelilingi tak kurang dari 8 gunung berapi, terdapat juga perkebunan Losari (d/h Karangredjo). Losari dimiliki Gabriella Teggia, warga Italia yang sudah menetap di Indonesia sejak 1965.

Tahun 2003, Gabriella Teggia inilah yang menulis buku A Cup of Java bersama Mark Hanusz. Buku keren ini bercerita tentang sejarah kopi hingga masuk ke Jawa, tentang sejarah kopi di Jawa (termasuk tentang Multatuli dan Max Havelaar-nya), tentang Java Estate (dan menyinggung juga kopi2 keren lainnya: Mandailing Sumatra, Kalosi Toraja, dll), tentang kopi panggangan Jawa (termasuk Kopi Warung Tinggi Jakarta, Kopi Aroma Bandung, Kopi Kapal Api, dll), serta tentang budaya ngopi di Jawa. Di bagian Appendix, buku ini menampik mitos tentang Kopi Luwak.

Starbucks sempat menelepon minggu lalu, menawarkan dua kopi istimewa untuk edisi khusus bulan ini: satu dari Sulawesi, dan satu dari Papua. Sementara menunggu kopi2 rasa nusantara itu (ingat Kopi Kampung), kita nikmati hari ini dengan Kopi Malang.

Posted by: lukmanc | March 23, 2008

Biar Ngopi Lebih Asik

Coffee Shake
coffeshake.jpg
Bagi anda penggemar kopi, mungkin tertarik untuk mencoba minuman ini, untuk merasakan sensasi lain dari yang didapat dari minuman kopi biasa.

Sumber : Majalah Sedap Sekejap
Bahan-Bahan :

  1. 2 cangkir ice vanilla
  2. 1 1/2 cangkir susu coklat
  3. 1/2 cangkir sirup mocca
  4. 2 sendok teh kopi bubuk instan
  5. Bubuk kayu manis
  6. Whipped cream.

CARA MENGOLAH

  1. Campurkan susu coklat, ice cream, sirup, dan kopi bubuk ke dalam blender, aduk dengan kecepatan tinggi masukan es batu, lalu aduk lagi selama 1 menit.
  2. Tuang kedalam gelas tinggi.
  3. Hias bagian atas dengan whipped cream dan bubuk kayu manis.
   
Posted by: lukmanc | March 20, 2008

Dibalik Nikmatnya Secangkir Kopi

d.jpgKenikmatan minum kopi memang tidak bisa dipungkiri oleh siapa saja. Sayang, selain memberi dampak positif, minum kopi ternyata membawa dampak ikutan yang bisa berbahaya.

Jadi bagaimana bisa tetap nyeruput kopi namun tetap aman ?

Selain teh, kopi merupakan minuman paling dikenal umat manusia. Tak seorang pun tak mengenal kopi. Minuman ini sudah dikenal di mana-mana sejak ratusan tahun lalu. Begitu terkenalnya kopi sampai timbul istilah coffee break atau “rehat kopi” di setiap acara resmi seperti seminar, lokakarya, rapat, dll. Saat itu para tamu atau peserta beristirahat sebentar untuk menikmati kue-kue sambil minum secangkir kopi atau teh. Sementara dalam kehidupan sehari-hari, kopi seringkali dijadikan pendamping sarapan pagi.

Sekalipun demikian mungkin jarang kita mengamati apa manfaat atau dampak negatif kopi bagi kesehatan. Paling-paling yang kita tahu setelah minum kopi badan terasa segar dan rasa kantuk hilang.

f.jpgBaik bagi pecandu narkoba

  • Menurut analisis kedokteran, dalam kopi terdapat sejenis senyawa kimia xantin. Derivat senyawa ini meliputi kafein, teofilin, dan teobromin.

Namun, kopi hanya mengandung kafein. Sedangkan teofilin terdapat dalam teh, sementara teobromin dalam coklat.

Kafein ternyata dapat menimbulkan perangsangan terhadap susunan saraf pusat (otak), sistem pernapasan, serta sistem pembuluh darah dan jantung. Sebab itu tidak heran setiap minum kopi dalam jumlah wajar (1-3 cangkir), tubuh kita terasa segar, bergairah, daya pikir lebih cepat, tidak mudah lelah atau pun mengantuk. Dampak positif ini menyebabkan orang sulit terlepas dari kebiasaan minum kopi.

Namun, sebenarnya manfaat di atas tidak berlaku bagi seseorang yang pekerjaannya memerlukan ketelitian, kerapian, serta ketepatan menghitung, seperti matematika, menggambar atau melukis. Sebaliknya, minum kopi lebih tepat bagi orang yang belajar ilmu-ilmu sosial atau menghapal. Minumlah sekitar setengah sampai satu jam sebelum aktivitas belajar atau menghapal dimulai.

Kafein acap kali juga dijadikan salah satu bahan pelengkap pada obat sakit kepala. Pasalnya, kafein memiliki kemampuan mempersempit pembuluh darah ke otak (vasokonstriksi) sehingga pelebaran pembuluh darah di daerah otak yang merupakan penyebab sakit kepala bisa ditanggulangi. Bahkan, senyawa xantin dalam dosis rendah mampu merangsang susunan saraf yang sedang depresi, misalnya akibat penyalahgunaan narkoba atau kecanduan alkohol. Sehingga muncul pendapat bahwa kafein dapat memperbaiki fungsi mental penderita yang keracunan alkohol.

Lebih jauh, kafein ternyata dapat menetralisasi asam lemak dalam darah.

Mengganggu kesuburan

  • Sayangnya, kebiasaan minum kopi acap kali memunculkan efek “kecanduan” baik secara psikologis maupun fisiologis.

Ciri umum ketergantungan kopi antara lain rasa letih atau lelah, tak bersemangat dan mengantuk kalau sehari saja tidak minum kopi. Yang wajar adalah mengonsumsi kopi sebanyak 85 – 200 mg atau 1 – 3 cangkir kopi. Namun, minum kopi di atas 250 mg sekaligus dapat menyebabkan gangguan kesehatan, seperti jantung berdebar, gelisah, insomnia (sulit tidur), gugup, tremor (tangan bergetar), bahkan mual sampai muntah-muntah.

Minum kopi juga berbahaya bagi penderita hipertensi (tekanan darah tinggi) karena senyawa kafein bisa menyebabkan tekanan darah meningkat tajam. Selain itu, kopi juga bisa meningkatkan aliran darah ke ginjal dengan akibat produksi urin bertambah. Jadi, jangan heran kalau tak lama sehabis mengkonsumsi kopi kandung kencing cepat penuh.

Minum kopi terlalu banyak bisa pula mengurangi kesuburan wanita, apalagi kalau dikombinasikan dengan alkohol. Bagi wanita usia menopause, minum kopi dalam jumlah banyak bisa menambah risiko kekeroposan tulang (osteoporosis).

Pada dosis sedang, kafein menaikkan produksi asam lambung yang berlangsung lama, sehingga dapat memperbesar risiko penyakit lambung, tukak lambung, atau tukak usus halus. Jadi para penderita kelemahan lambung hendaknya menghindari konsumsi kopi.

Cara pengolahan dan penyeduan kopi pun memberi andil terhadap dampak yang ditimbulkannya. Bentuk pengolahan dan penyeduhan kopi tubruk misalnya. Kopi tubruk pada umumnya lebih keras karena bubuk kopi dalam cangkir atau gelas langsung diseduh air mendidih. Lagipula kopi tubruk pada umumnya menggunakan kopi lebih kasar, dipadu dengan gula batu. Dengan sendirinya akan lebih banyak ampas bubuk kopi yang masuk ke tubuh kita dibandingkan dengan kopi yang diseduh dalam teko. Maka dapat dipahami bila efek sampingan kopi tubruk lebih tinggi dibandingkan dengan secangkir kopi yang sudah “tersaring” ampas kopinya.

Penyakit jantung dan arteriosklerosis

Masalah dampak kopi kasar atau tidak disaring (unfiltered) ini dipelajari oleh sejumlah peneliti di Belanda.

Mereka mengamati tingginya kadar homosistein dalam darah pecandu kopi. Homosistein merupakan substansi yang terbentuk dari metionin, yakni suatu asam amino esensial yang terbentuk pada saat tubuh mengeluarkan protein. Padahal peningkatan homosistein berhubungan erat dengan risiko penyakit jantung.

Meski belum jelas bagaimana persisnya asam amino esensial mengganggu jantung, sudah terbukti bahwa zat tersebut acap kali menyebabkan timbulnya luka di berbagai lapisan dalam pembuluh darah arteri dan selanjutnya menjadi tempat menumpuknya asam lemak dan kalsium. Timbunan ini bisa mengakibatkan pengerasan dinding pembuluh darah arteri (arteriosklerosis).

Di sisi lain, menurut Dr. Elvina Karyadi, ahli gizi, homosistein dibutuhkan tubuh untuk berbagai reaksi biokimia, terutama dalam proses perubahan metionin menjadi sistationin dan berperan dalam membentuk propionil-koA (substansi yang beperan dalam metabolisme lemak dan karbohidrat), asalkan kadarnya tidak tinggi. Kadar normalnya, 7 – 22 ug mol/L.

Seorang peneliti Belanda menambahkan, dua minggu setelah setiap hari minum enam cangkir kopi, konsentrasi homosistein seseorang naik 10% dari angka normal. Begitu juga kadar kolesterol dan trigliserida. Namun, kenaikan ini tidak permanen. Bila kopi dihentikan dan keadaan tubuh sehat, kelebihan homosistein dapat secara alami normal kembali. Selain dengan mengurangi kafein, kenaikan kadar homosistein dapat pula dicegah dengan mengurangi konsumsi protein hewani yang banyak mengandung metionin.

Bila dalam sehari minum 1,360 g kopi kasar (sekitar 6-7 cangkir), diperkirakan risiko untuk terkena serangan jantung atau stroke naik 10%. Selain itu kadar vitamin B6 bisa berkurang sampai 21%.

Atas dasar itu alangkah baiknya tidak minum kopi, khususnya bagi mereka yang berisiko tinggi penyakit jantung. Kalau pun harus minum kopi, untuk kita sebaiknya hanya 1-3 cangkir sehari (standar untuk orang Eropa 3-5 cangkir). Itu pun tidak pada saat menjelang tidur.

Kopi bisa digantikan segelas air jeruk, sayuran hijau, disertai konsumsi vitamin B6 dan B12. Jenis-jenis makanan dan minuman ini tidak mengandung seng dan kafein tapi tinggi mineral, vitamin serta asam folat. Padahal vitamin B6, B12, dan asam folat sangat berperan dalam menurunkan kadar homosistein dalam tubuh, sehingga penyakit jantung koroner pun bisa dihindari (Intisari).

Posted by: lukmanc | March 19, 2008

Kopi Luak Bali

ko.jpgKalau orang ditanya apakah kopi yang sejauh ini paling mahal di seantero jagad, kebanyakan pasti menyebutkan kopi luwak sebagai salah satunya. Tapi apakah dengan statusnya sebagai kopi termahal berarti kopi tersebut sebagai kopi paling enak sejagad? Belom tentu….

Awal minggu ini saya dapat kesempatan mencoba cangkir kedua kopi luwak yang pernah saya minum sejauh ini. Ketika tawaran datang, langsung terbayang-bayang karakter kopi luwak pertama yang dicoba beberapa tahun yang lalu, karakternya dominan earthy, dengan tingkat kematangan pemetikan kopi yang just perfect, acidity yang balance. Kesimpulan kami waktu itu adalah kopi ini mungkin bukan yang terbaik yang pernah kami minum, tapi memang dipetik tepat pada waktunya, karena telat 1 hari saja, karakter fermented mungkin akan mulai muncul.

1 buah kemasan vacum-pack, berisi 10 gram kopi luwak yang sudah diroast dan digiling, dibuka sambil menunggu air selesai dijerang. Bila 1 Kg kopi ini dihargai Rp. 5 juta sekian, artinya kopi yang saya hadapi sekarang, harga bahan di tingkat suppliernya sudah limapuluh ribu something. Hmmm… jauh bener ya sama kopi-kopi yang biasa saya temui, yang harga bahan percangkirnya semahal-mahalnya hanya limaribuan rupiah saja (Kecuali mungkin Kona atau Blue Mountain yang pernah saya minum, tapi berhubung statusnya oleh-oleh, jadinya gak tahu harganya berapa)

Beberapa menit setelah air sudah mendidih, isi kemasan kopi luwak langsung dibagi ke 2 cangkir kecil, dan air dituangkan. Sambil menunggu kopi di cangkir “matang”, kami mengendus-endus wanginya, mencoba menebak seperti apa kira-kira karakternya nanti. Dengan harapan tinggi, dan kekuatan penuh menahan diri, untuk tidak mengaduk-aduk kopi di cangkir sebelum waktunya, kami menunggu berakhirnya masa ekstraksi 4 menit untuk berlalu. Ketika waktu ekstraksi selesai, dengan penuh semangat kami mengaduk ampas yang mengambang diatasnya, sambil menaruh hidung diatas cangkir, mengendus-endus seperti seseorang yang sedang mencari sumber kentut diantara sekerumunan orang. Hendusan pertama memberi peringatan keras, yang membawa imajinasi yang tadinya sudah mengawang-awang, membayangkan karakter seperti apa yang bakal didapat, untuk turun ke bumi dalam waktu secepat-cepatnya. Kopi luwak ini bijinya robusta! Sebagai penikmat arabika, ini merupakan suatu cobaan, karena robusta bagi saya karakternya cenderung membosankan (kecuali 1 atau 2 sample robusta yang ditanam di ketinggian diatas 1000 m), dimana yang bisa dinilai hanyalah body. Acidity, Flavour, dan Aroma bisa dibilang sangat minim dimiliki kopi robusta.

luak.jpgSeruputan pertama memastikan bahwa sample kopi yang dihadapi ini adalah robusta. Seruputan kedua menemukan karakter earthy yang sangat-sangat dominan, cenderung seperti tanah yang sangat-sangat basah. Karakter menarik model-model fruity, acidity, aroma dan flavour yang lain cenderung nihil, tapi ya gimana lagi, karena sample yang diminum itu robusta. Satu yang membuat kopi ini mungkin bisa dianggap spesial, adalah wangi pesing yang muncul ketika temperatur mulai turun. Bayangkan, orang membayar ratusan ribu rupiah untuk secangkir kopi beraroma pesing!

Cangkir kopi didepan saya sruput sekali-sekali demi menghargai sang ibu yang telah memberi kesempatan bagi saya untuk ikut mencoba kopi luwak yang dia sedang supply ke sebuah hotel besar di bandung. Alhamdulillah saya gak usah bayar untuk cangkir yang saya hadapi ini. Bagi saya, kopi petikan dan pilihan manusia lebih saya hargai, karena paling gak, melalui proses seleksi, grading, dan pasca panen yang terjaga, secangkir kopi nikmat lebih bisa diharapkan. Besides.. Luwak mana peduli yang dia makan itu arabika atau robusta🙂

Prev: kopi Tjia Lie Hong

Older Posts »

Categories