Posted by: lukmanc | June 5, 2008

PENGARUH PEMBERIAN URINE SAPI DAN ROOTON F TERHADAP PERTUMBUHAN AKAR STEK KOPI

I. PENDAHULUAN.

1.1 Latar Belakang

Perbanyakan tanaman kopi dengan stek dewasa ini telah berkembang dengan pesat, terutama pada kopi robusta. Sebagian besar perusahaan perkebunan beasar negara dan swasta telah menggunakan bahan tanam stek sebagai bahan tanam atau untuk peremajaan tanaman kopinya. Menurut Hartobudoyo dan Soedarsono (dalam Nur, 1989) Pertumbuhan tanaman stek lebih seragam dan memiliki sifat genetik sama dengan induknya. Sistem perakaran tanaman stek juga cukup kokoh menyerupai tanaman semaian (Nur dan Zainudin dalam Nur, 1989).

Kopi robusta sering kali diperbanyak dengan cara vegetatif, atau menggunakan stek. Dalam perbanyakan tanaman secara vegetatif atau menggunakan stek, pembentukan akar merupakan faktor awal yang paling terpenting dalam pertumbuhan tanaman, tetapi dengan cara ini sukar terjadi pembentukan akar. Masalah ini memang dapat diatasi dengan pemberian hormon tumbuh, yang tujuannya untuk merangsang keluarnya akar (Abdurrani, 1990).

Hormon tumbuh dapat berupa hotmon tumbuh alami, maupun hormon tumbuh sintetis. Hormon tumbuh alami dapat diperoleh dari organ tumbuh tanaman yang masih muda, misalnya ujung tanaman dan ujung akar. Tetapi sumber keduanya sulit dicari. Sedangkan hormon tumbuh sintetis adalah hormon tumbuh yang dibuat oleh pabrik, misalnya IAA (Indoleacetic acid) atau dipasaran disebut Rooton F. Rooton F selain sulit tersedia di tempat yang mudah dijangkau oleh para petani di pedesaan, harganya juga relatif sangat tinggi (Abdurrani, 1990).

Zat perangsang tumbuh atau hormon tumbuh adalah senyawa organik yang dalam konsentrasi rendah (< 1 mm) mampu mendorong, menghambat, atau secara kualitatif merubah pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Moore dalam Erviyanti, 2005).

Sebenarnya tanaman memiliki hormon misalnya Rhizokulin untuk merangsang akar, Kaulin untuk merangsang pertumbuhan batang, dan Antokalin untuk merangsang pembungaan. Hormon-hormon ini termasuk dalam golongan auxin yaitu AIA (Asam Indol Asetat), ANA (Asam Naftalena Asetat), dan AIB (Asam Indol Butirat). Hormon yang terdapat dalam tanaman tersebut jumlahnya hanya sedikit oleh karena itu penambahan zat ataupun hormon yang mendukung pertumbuhan akar maupun batang. Dengan demikian diharapkan pertumbuhan tanaman menjadi lebih cepat. Misalnya pada pembuatan stek, tanpa pemberian hormon atau zat perangsang tumbuh akar pada stek akan tumbuh agak lama, dan dengan penambahan hormon pada luka ataupun media maka akar pada atek akan tumbuh lebih cepat (Wuianto dalam Erviyanti, 2005).

Seiring dengan berkembanganya ilmu pengetahuan, dari hasil penelitian ternyara rooton f juga terdapat dalam urine sapi (air kencing sapi). Fungsinya sama, yakni merangsang pertumbuhan akar pada stek kopi sebagai bahan tanam (Abdurrani, 1990).

1.2 Rumusan Masalah

Kopi robusta mempunyai sistem penyervukan silang sehingga apabila kopi robusta diperbanyak dengan benih tanaman tidak sama seperti induknya yang bersifat unggul. Untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan perbanyalan secara vegetatif, salah satunya adalah dengan menggunakan setek. Sedangkan pada stek yang terpenting adalah cara menumbuhkan akar sehingga dapat mempercepat pertumbuhan tanaman, karena penyerapan unsur hara dilakukan oleh akar atau tidak hanya dari pucuk daun tanaman. Oleh karena itu diperlukan hormon untuk mempercepat tumbuhnya akar pada stek tanaman kopi .

Adapun hormon yang digunakan untuk mempercepat munculnya akar adalah hormon tumbuh sintetis (rooton f) dan hormon alami (urine sapi). Dengan percobaan ini diharapkan hasil yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan pemilihan hormon atau zat perangsang tumbuh antara yang alami dan mudah didapat dengan yang sintetis atau buatan.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sejauh mana kecepatan tumbuh akar dengan menggunakan zat perangsang tumbuh atau hormon rooton f dan urine sapi. Selain itu juga untuk mengetahui zat pengatur tumbuh mana yang memiliki pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan stek kopi.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan mampu menambah pengetahuan dan informasi tentang perbanyakan tanaman kopi secara vegetatif dengan bantuan hormon atau zat pengatur tumbuh dan sebagai bahan kajian penelitian lebih lanjut.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Botani Tanaman Kopi Robusta

Ada bermacam-macam jenis kopi, namun dalam garis besarnya hanya ada tiga jenis kopi yaitu Arabika, Liberica, dan Robusta. Yang paling dulu diusahakan di Indonesia adalah jenis arabica, kemudian menyusul golongan liberica, dan yang terakhir adalah golongan robusta (AAK, 1982).

Kopi robusta disebut juga kopi canephora (Coffea canephora). Kopi ini memiliki batang yang lebih besar dari jenis kopi lainya. Di perkebunan tinggi tanaman ini tidak lebih dari 4 m karena selalu dipangkas. Apabila tidak dipangkas tinggi pohon bisa mencapai 2-3 kali lipatnya. Daun kopi robusta berbentuk lonjong, lebar, dengan bagian pangkal yang tumpul atau membundar, sedangkan ujungnya meruncing. Bunganya muncul pada cabang-cabang yang mendatar, menggerombol, umumnya terdiri atas 2-4 bunga yang tak bertangkai pada setiap gerommbol. Warna bunga putih dan baunya sangat harum. Buahnya termasuk buah batu dan berwarna merah kebiruan kalau sudah masak (Balai Pustaka, 1980).

Dalam penelitian ini bahan stek diammbil jenis kopi robusta klon BP 42, dengan sifat-sifat agronomi:

a. Perawakan sedang.

b. Percabangan mendatar, ruas pendek.

c. Bentuk daun membulat besar, permukaan bergelombang sedikit, dan berwarna pupus hijau kecoklatan.

d. Buah berbentuk besar, dompolan rapat, warna hijau pucat, masak merah.

e. Biji berukuran medium – besar, saat pembungaan agak akhir (lambat).

f. Produktivitas (kg kopi biji/ha/th): 800 – 1.200 (Balai Penelitian Kopi dan kakau Indonesia, 2008).

Kopi robusta dapat tumbuh baik pada ketinggian 0 – 1000 m diatas permukaan laut, menghendaki curah hujan yang cukup dengan masa kering 3-4 bulan. Temperatur yang dikehendaki untuk jenis kopi ini adalah 21-240C (AAK, 1989).

2.2 Penyetekan Kopi Robusta

Yang dimaksud dengan stek adalah mengusahakan perakaran dari bagian-bagian tanaman (cabang, daun, atau akar) dengan memotong dari induknya untuk ditanam (Sunaryono, 1984).

Kopi robusta ditanam menggunakan bibit stek karena pada umumnya kopi rebusta melakukan penyerbukan silang, sehingga bila ditanam dengan biji dikhawatirkan sifat tanaman tidak sama dengan induknya.

Bahan stek dapat dibeli dari tempat penangkaran bibit, kebun entres, atau kebun produksi. Bila diambil dari kebun produksi maka tanaman harus besifat unggul. Bahan stek berupa ujun wiwilan yang sehat dan tumbuh subur (Najiyati dan Danarti, 2007).

Penyemaian stek dimulai dari pembuatan bedeng penyetekan dengan media semai berupa pasir halus dengan tingi 10 cm, kemudian beri naungan.

Setelah bedengan penyemaian stek disiapkan maka pekerjaan selanjutnya adalah penyemaian stek. Penyemaian stek dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

a. Potong bahan stek hingga tersisa 2-3 ruas dengan gunting pangkas, panjangnya kira-kira 15-20 cm. Ruas yang digunakan sebagai bahan stek adalah ruas kedua dan ruas ketiga, sedangkan ruas pertama yang paling atas dibuang.

b. Potong mendatar ujung stek bagian atas sekitar 2 cm diatas buku kedua. Potong miring ujung bagian bawah sekitar 3-5 cm dibawah buku ketiga atau ke empat. Helaian daun dipotong hingga tersisa ¼ bagian, tujuanya untuk mengurangi penguapan. Beri lilin parafin diujung stek sebelah atas untuk mengurangi penguapan dan mencegah serangan penyakit. Sedangkan pada bagian bawah dapat direndam dengan rooton f atau direndam dengan urine sapi sebagai zat pengatur tumbuh.

c. Tancapkan stek pada bedengan sedalam 7,5 cm dengan kemiringan 10-20 derajat. Jarak tanam stek 15 x 15 cm. Siram dengan air secukupnya.

d. Selain itu keberhasilan dalam pennyetekan harus didukung pula dengan lingkungan yang memadai. Umumnya menggunakan sungkup plastik transparan. Sungkup ini berfungsi sebagai penjaga kelembaban dan suhu sehingga diharapkan pertumbuhan stek dapat tumbuh dengan baik (Erviyanti, 2005).

Setelah stek disemaikan tahap selanjutnya adalah pemeliharaan persemaian. Pemeliharaan persemaian meliputi penyiraman dan pemberantasan gulma yang mengganggu dipersemaian. Penyiraman dilakukan hingga media menjadi lembab.

2.3 Zat Perangsang Tumbuh Rooton F

Rooton F merupakan salah satu contoh hormon tumbuh yang mengandung indole 3 – butyric acid termasuk dalam contoh auxin (Sudarmo dalam Erviyanti, 2005).

Menurut Rismunandar (dalam Erviyanti) rotoon f merupakan hormon tumbuh sintetis yang lajim digunakan untuk merangsang pertumbuhan akar dalam penyetekan. Rooton f mengandung Naftalenasetamida (0,067 %), Metil – 1 Neftalenasetamida (0,013 %), Metil – 1 Neftalen Asetat (0,033 %), Indole 3 – Butirat (0,057 %) dan Fungisida tiram (4%). Fungsi rooton f dalam tanaman adalah untuk merangsang meningkatnya dan terbentuknya dan meningkatkan aktifitas dari hormon tumbuh-tumbuhan, jadi bukan inhibitor yang dapat menyebabkan kekerdilan pada tanaman. Rooton f juga berguna merangsang dan meningkatkan pertumbuhan tanaman mulai dari perkembangan sel, pertumbuhan bibit, akar, tunas, batang, dan bunga sampai menjadi buah. Zat perangsang tumbuh ini juga tersedia dalam bentuk tepung berwarna putih dengan konsentrasi anjuran 5 gr / 10 liter air (Widianto dalam Erviyanti, 2005).

2.4 Urine Sapi

Seiring dengan berkembanganya ilmu pengetahuan, dari hasil penelitian ternyara rooton f juga terdapat dalam urine sapi (air kencing sapi). Fungsinya sama, yakni merangsang pertumbuhan akar pada stek kopi sebagai bahan tanam. (Abdurrani, 1990).

Cara penggunaannya, bahan urine dikumpulkan pada satu tempat, misalnya kaleng, saring urine dengan kain tipis atau kain kasa, encerkan urine dengan menggunakan air bersih sampai konsentrasi 5 % atau 10 %, caranya yaitu 10 ml urine ditambah 200 ml air (5 %) atau 10 ml urine ditambah 100 ml air (10 %).

Pengetrapanya stek yang telah disiapkan dicelupkan kedalam larutan urine sapi selama 5 – 10 detik menjelang ditanam ke bedengan.

About these ads

Responses

  1. setelah saya baca artikel ini ternyata skripsi saya nyambung.
    saya mnta informasi yang lebih banyak,lebih banyak lagi tentang PENGARUH PEMBERIAN URIN SAPI UNTUK PERTUMBUHAN TANAMAN.
    trima kasih banyak atas infbantuannya.ormasinya dan

  2. maaf mungkin saat ini saya belum bisa bantu, saya juga lagi bahan2, artikel2 tntang urin sapi…….

    INSYA ALLAH kalau ada nanti tan postingkan lagi

    thank ya atas komennya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: